Bagikan

Saham Telkom (TLKM) Layak Beli, Infranexia dan Dividen Jumbo Jadi Pendorong

Poin Penting

Laba bersih TLKM 2025 turun 20,5% menjadi Rp17,8 triliun.
Infranexia berpotensi bernilai Rp81-120 triliun dengan dana masuk hingga Rp25 triliun.
Telkom indikasi bagikan dividen minimal Rp21 triliun pada tahun ini.

JAKARTA, investortrust.idPT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memiliki dua sentiment positif yang lebih kuat, dibandingkan dengan sentiment negative dari restatement kinerja keuangan Telkom (TLKM) tahun 2023-2024. Dua sentiment positif ini menjadikan saham operator telekomunikasi terbesar di Indonesia ini layak dipertahankan beli.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta mengatakan, sentiment positif tersebut adalah potensi monetisasi bisnis infrastruktur fiber melalui Infranexia. Apalagi monetisasi asset tahap kedua ditargetkan tuntas pada kuartal III-2026 dan dilanjutkan pembahasan dengan mitra strategis yang lebih intensif.

Telkom (TLKM) juga membuka peluang untuk mengakuisisi atau mengonsolidasikan tambahan aset fiber sebelum proses monetisasi dilakukan. Saat ini, hanya 16% pendapatan bisnis B2B Infrastructure TLKM tahun 2025 berasal dari pelanggan eksternal, sementara 84% masih berasal dari internal grup. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang monetisasi bernilai jumbo.

Baca Juga

Telkom (TLKM) Raup Laba Bersih Rp 17,8 Triliun di 2025, Transformasi TLKM 30 Terus Dipercepat

Berdasarkan valuasi EV/EBITDA sebesar 9-12 kali, nilai Infranexia diperkirakan mencapai Rp 81-120 triliun. “Dengan scenario penjualan saham sebesar 20-30%, TLKM berpotensi meraih dana Rp 11-25 triliun atau setara dengan tambahan dividend yield sekitar 4-9%,” tulis riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas di Jakarta, pekan ini.

Sentimen positif kedua, BRI Danareksa Sekuritas mengungkap, Telkom (TLKM) mengindikasikan pembagian dividen minimal sebesar Rp 21 triliun atau hampir sama dengan tahun buku 2024. Total dividen tersebut setara dengan Rp 212,46 per saham. Adapun Telkom (TLKM) mematok target pertumbuhan pendapatan tahun ini sebesar 1-3% dengan margin EBITDA di atas 50%.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini saat memberikan keterangan dalam Konferensi Pers "Penandatanganan Akta Pemisahan Sebagian Bisnis dan Aset Wholesale Fiber Connectivity (Tahap-1) oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF)" di Telkom Landmark Tower, Jakarta, Kamis (18/12/2025). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.
Source: Investortrust

Sesuai Ekspektasi

Sementara itu, Telkom (TLKM) melaporan kinerja keuangan tahun lalu dengan penurunan laba bersih sebesar 20,5% menjadi Rp 17,8 triliun pada 2025. Penurunan laba dipicu atas kenaikan beban depresiasi dan amortisasi (D&A) setelah revisi akuntansi aset fiber perseroan.

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa realisasi laba tersebut berada di bawah ekspektasi, merefleksikan sebanyak 85,3% dari estimasi BRI Danareksa Sekuritas dan 82,9% dari konsensus pasar. Namun, kinerja operasional inti TLKM masih sejalan dengan perkiraan.

Baca Juga

IHSG Anjlok Tiga Hari Beruntun, Market Cap BEI Tergerus Rp 581 Triliun

Telkom (TLKM) mencatatkan penurunan pendapatan tahun lalu sebanyak 2,25% menjadi Rp 146,7 triliun serta EBITDA mencapai Rp 72,2 triliun dan turun 3,7% yoy. Capaian tersebut masing-masing setara 100,8% dan 98,7% dari estimasi analis. Pada kuartal IV-2025, pendapatan tumbuh 1,4% secara kuartalan (qoq), didukung perbaikan average revenue per user (ARPU) yang mencapai Rp 45 ribu atau naik 3,7% qoq.

BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa restatement kinerja keuangan Telkom (TLKM) tahun 2023-2024 bertujuan untuk mereklasifikasi aset fiber ke dalam kategori cable network dan drop core dengan asumsi umur manfaat yang lebih pendek. Keputusan ini memicu penurunan nilai buku bersih (net book value/NBV) aset fiber dari Rp 57,8 triliun menjadi Rp 47,5 triliun untuk tahun buku 2024.

Baca Juga

BEI Awasi Kasus Dugaan Fraud Laporan Keuangan Telkom, Tunggu Penjelasan Lanjutan

“Perubahan akuntansi tersebut juga meningkatkan beban D&A sekitar Rp 4,5-5 triliun atau sekitar 14-15% di atas basis historis sebelum restatement yang berada di kisaran Rp 32-33 triliun,” tulisnya.

Meski berdampak pada pelaporan laba bersih, BRI Danareksa Sekuritas menilai, penyesuaian tersebut bersifat non-cash, sehingga tidak memengaruhi arus kas operasional maupun kapasitas pembagian dividen perseroan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024