ETH Tertekan, Kinerja Ethereum Kalah 35% dari Bitcoin Setahun Terakhir
JAKARTA, investortrust.id - Ethereum (ETH) tercatat melemah lebih dari 35% terhadap Bitcoin (BTC) dalam setahun terakhir. Tekanan terhadap pasangan ETH/BTC dinilai masih berpotensi berlanjut setelah gagal menembus garis tren penurunan multi tahun yang membatasi pergerakan harga sejak 2022.
Secara teknikal, ETH/BTC kembali ditolak saat menguji area resistensi penting pada Agustus 2025. Penolakan tersebut terjadi di dekat konfluensi level retracement Fibonacci 0,382 dan rata-rata pergerakan eksponensial 50 bulan (50-month EMA). Setelah itu, pasangan ETH/BTC turun kembali ke bawah level EMA 20 bulan di kisaran 0,034 BTC, menandakan dominasi tekanan jual masih kuat.
Jika tren pelemahan berlanjut, target penurunan berikutnya diperkirakan berada di area 0,0176 BTC pada 2026 atau sekitar 40% lebih rendah dari posisi saat ini. Level tersebut bertepatan dengan dasar siklus pasar tahun 2020 dan dinilai menjadi area support utama berikutnya bagi ETH..
Baca Juga
Sinyal Bullish Menguat, Ethereum Berpeluang Tembus US$3.000 di Bulan Mei
Melansir Cointelegraph, Senin (11/5/2026) disebutkan bahwa dari sisi fundamental, data cadangan bursa memperlihatkan tekanan suplai Ether masih cukup tinggi. Berdasarkan data CryptoQuant, cadangan ETH di Binance meningkat menjadi sekitar 3,62 juta ETH per Mei 2026, atau setara 24,6% dari total Ether yang tersimpan di seluruh bursa kripto. Kenaikan cadangan di bursa umumnya mengindikasikan meningkatnya potensi tekanan jual karena lebih banyak token tersedia untuk diperdagangkan.
Sebaliknya, Bitcoin justru menunjukkan kondisi likuiditas yang lebih ketat di bursa, mencerminkan kecenderungan investor menyimpan aset untuk jangka panjang. Kondisi tersebut memperkuat divergensi performa antara Ethereum dan Bitcoin dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Reli Kripto, Bitcoin Melampaui US$ 74.000 dan Ethereum Naik di Atas US$ 2.300
Analis menilai melemahnya Ethereum juga dipengaruhi pergeseran fundamental pasar. Narasi “ultrasound money” yang sebelumnya menjadi daya tarik utama Ethereum mulai kehilangan momentum, sementara Bitcoin terus memperoleh dukungan dari arus akumulasi korporasi dan integrasi yang semakin luas ke portofolio institusi keuangan global.
Perusahaan seperti Strategy menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya minat institusi terhadap Bitcoin. Hal itu seiring aset kripto terbesar tersebut semakin diterima sebagai instrumen lindung nilai dan penyimpan nilai jangka panjang.

