Saham MORA, ASPR, hingga MEDS Pimpin Top Gainers Pekan Ini, Lompatan di Atas 51%
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah saham mencatat kenaikan signifikan sepanjang pekan ini. Berdasarkan daftar top gainers weekly, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) memimpin penguatan dengan lonjakan 59,24% dari Rp 4.710 menjadi Rp 7.500.
Di posisi kedua, saham ASPR menguat 57,24% setelah naik dari level Rp 290 menjadi Rp 456. Sementara itu, saham MEDS melonjak 51,95% dari Rp 77 menjadi Rp 117. Penguatan juga terjadi pada saham GSMF yang naik 41% dari Rp 100 menjadi Rp 141. Adapun saham ABDA menguat 39,15% dari Rp 2.580 menjadi Rp 3.590.
Baca Juga
Royalti Tembaga, Emas, dan Timah Naik, Emiten Timah hingga Emas Dibayangi Volatilitas Jangka Pendek
Saham MPOW turut mencatat kenaikan 37,04% dari Rp 108 menjadi Rp 148. Selanjutnya, saham NIKL naik 34,23% dari Rp 298 menjadi Rp 400. Sisanya dicatatkan saham CTTH menguat 32,89%, KAEF juga naik 32,85%, dan IRRA menguat 32,12%.
Kenaikan sejumlah saham tersebut jauh mengungguli penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini hanya 12,59 poin (0,18%) menjadi 6.969 pekan ini. Keberhasilan indeks catatkan kenaikan pekan ini ditopang penguatan dalam sempat hari dari lima hari transaksi pekan ini dan saham perbankan papan atas jadi penopang utama.
Berdasarkan data BEI, penguatan indeks pekan ini ditopang kenaikan sejumlah sektor saham seperti infrastruktur 5%, consumer non primer 2,10%, dan keuangan 1,97%. Sektor lainnya justru catatkan penurunan lebih dari 5%, yaitu sektor energi, material dasar, dan transportasi.
Baca Juga
Saham Bank Papan Atas Topang Kenaikan IHSG 0,18% Pekan Ini, Ada BBRI hingga BBCA
Meski mencatatkan kenaikan tipis, pemodal asing ternyata masih melanjutkan penjualan bersih (net sell) saham mencapai Rp 2,43 triliun di pasar regular. Terbanyak disumbangkan saham BMRI senilai Rp 1,6 triliun, BBCA mencapai Rp 500,44 miliar, dan BUMI mencapai Rp 195,70 miliar.
Sebaliknya kemarin IHSG tetiba anjlok lebih dari 2,82% menjadi 6.969,39. Penurunan paling dalam melanda saham sektor material dasar sebanyak 7,80% akibat adanya isu rencana kenaikan royalty komoditas, seperti timah, nikel, hingga emas.

