Pertamina Geothermal (PGEO) Incar Kenaikan Kapasitas 2,5 Kali Lipat pada 2033, Ini Strateginya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menargetkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit Listrik panas bumi (geothermal) hingga hampir 2,5 kali lipat dalam satu dekade ke depan, seiring strategi ekspansi agresif berbasis potensi sumber daya dan eksekusi terukur.
President Director PGE Ahmad Yani mengatakan, perseroan memiliki potensi sumber daya panas bumi sebesar 3,3 gigawatt (GW), dengan kapasitas terpasang yang dioperasikan sendiri saat ini sebesar 727 megawatt (MW) serta tambahan 1,2 GW melalui skema joint operating contract di 15 wilayah operasi.
“Ini memberikan kami resource depth dan scalability yang sangat kuat,” ujar Ahmad Yani dalam konferensi pers daring, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga
Dari sisi kinerja, PGEO mencatat produksi tertinggi sepanjang sejarah pada 2025 sebesar 5.095 gigawatt hours (GWh) dengan laba bersih mencapai US$137,7 juta.
“Dengan laba bersih mencapai US$ 137,7 juta yang didukung oleh tim yang solid dan berpengalaman. Ini bukan hanya tentang resource, tetapi juga kualitas dan konsistensi eksekusi,” tambahnya.
Guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan, PGEO mengusung tiga pilar strategi. Pertama, memperkuat bisnis inti melalui high reliability, operational excellence, dan pengelolaan reservoir optimal.
Kedua, ekspansi melalui pengembangan proyek greenfield dan brownfield, cogeneration, serta kemitraan strategis. Ketiga, membuka sumber pendapatan baru melalui inovasi teknologi dan pemanfaatan langsung energi panas bumi (direct use).
Baca Juga
Dengan strategi tersebut, kapasitas PGE ditargetkan meningkat dari 727 MW saat ini menjadi 1 GW pada 2028, dan mencapai sekitar 1,8 GW pada 2033. “Artinya, kami menargetkan hampir 2,5 kali lipat peningkatan kapasitas terpasang dengan growth plan yang terarah,” jelas Ahmad Yani.
Sedangkan dalam jangka pendek hingga 2028, PGEO akan fokus pada proyek berisiko rendah dengan visibilitas tinggi, seperti Hulu Lais Unit 1 dan 2, Ulubelu Binary, Lahendong Low Pressure Binary, serta Lumut Balai Binary.
“Proyek-proyek ini memiliki struktur komersial yang jelas, timeline COD terdefinisi, dan siap dieksekusi,” ujarnya.
Baca Juga
Gelar RUPS, PGE (PGEO) Catat Produksi Listrik Tertinggi dan Rombak Direksi
Sedangkan dalam jangka menengah hingga panjang, ekspansi mencakup proyek Gunung 3, Lumut Balai 3 dan 4, Kotamobagu, hingga Wai Ratai.
Dari sisi investasi, belanja modal (capex) diproyeksikan meningkat signifikan pada periode 2028–2031, seiring masuknya proyek-proyek besar ke tahap konstruksi. “Ini bukan sekadar belanja modal, tetapi investasi pada aset jangka panjang dengan visibilitas tinggi,” tutup Ahmad Yani.

