Strategi Investasi Jangka Panjang Dinilai Lebih Unggul di Tengah Volatilitas Pasar
JAKARTA, investortrust.id – PT Ciptadana Asset Management menilai strategi investasi jangka panjang tanpa banyak transaksi berpotensi menorehkan imbal hasil lebih optimal bagi investor saat ini, dibandingkan pendekatan aktif keluar-masuk pasar, terutama di tengah volatilitas.
Equity Fund Manager Ciptadana Asset Management, Andrian Winoto mengungkapkan, berdasarkan riset di Amerika Serikat, investor reksadana saham dengan return tertinggi justru berasal dari kelompok yang tidak aktif bertransaksi.
“Yang paling tinggi itu justru investor yang lupa punya reksadana. Kedua adalah investor yang sudah meninggal sehingga investasinya tidak tersentuh,” ujar Andrian.
Baca Juga
Temuan tersebut, terang dia, menunjukkan bahwa strategi market timing, seperti membeli di harga rendah dan menjual di harga tinggi, tidak selalu efektif. Investor yang terlalu aktif bertransaksi justru berisiko kehilangan momentum kenaikan pasar.
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya berlaku pada reksadana saham, tetapi juga investasi saham secara langsung. Dalam jangka panjang, pasar cenderung bergerak naik meskipun mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi pasar saat ini, Andrian mengingatkan, adanya potensi volatilitas yang dipengaruhi sentimen global dan domestik. Kenaikan harga minyak dunia mulai berdampak pada harga energi dalam negeri, termasuk bahan bakar, yang berpotensi menekan daya beli dan kinerja ekonomi.
Baca Juga
Bank Indonesia Kembali Pertahankan BI Rate 4,75% demi Stabilitas Rupiah dan Inflasi
Selain itu, keputusan terkait indeks global MSCI dalam waktu dekat juga berpotensi memicu pergerakan pasar. Meski demikian, ia menyarankan investor ritel untuk tidak terlalu fokus pada dinamika jangka pendek. Strategi yang dinilai lebih relevan adalah melakukan investasi secara berkala atau dollar cost averaging (DCA).
“Daripada mencoba menebak kondisi pasar, lebih baik menabung secara konsisten, misalnya setiap bulan setelah menerima gaji,” jelasnya.
Andrian menegaskan bahwa memprediksi waktu terbaik untuk masuk dan keluar pasar merupakan hal yang sulit, bahkan bagi manajer investasi.
Tanda Pemulihan
Dari sisi fundamental, ia melihat ekonomi domestik menunjukkan tanda pemulihan pada awal tahun. Hal ini tercermin dari pertumbuhan penjualan mobil dan sepeda motor yang mencapai dua digit, peningkatan penjualan semen, serta perbaikan pertumbuhan kredit.
Baca Juga
Namun, ia mengingatkan adanya risiko ke depan, terutama dari faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik global dan lonjakan harga minyak. Kenaikan harga bahan baku berbasis energi, seperti plastik yang meningkat hingga 30–50%, berpotensi menekan biaya produksi di berbagai sektor.
“Secara data, awal tahun ini sebenarnya cukup baik. Tetapi ke depan memang ada risiko dari faktor eksternal seperti harga minyak dan kondisi global,” pungkas Andrian.

