Suku Bunga Diperkirakan Bertahan Hingga Akhir Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ruang penurunan suku bunga diperkirakan semakin sempit dan suku bunga acuan berpotensi bertahan tinggi hingga akhir 2026, seiring inflasi global yang kembali menanjak akibat lonjakan harga energi dan tekanan rantai pasok, di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar keuangan dunia.
Laporan BRI Weekly Economic Update W2 April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, di Jakarta, Senin (13/04/2026), menyebutkan bahwa estimasi inflasi CPI global meningkat menjadi 3,71% pada awal April 2026, naik dari titik terendah 3,16% pada pertengahan Februari 2026. Kenaikan inflasi ini berlangsung cukup merata, baik di negara maju maupun berkembang, dan menjadi alasan utama bank-bank sentral global menahan laju pelonggaran moneter. Sumber: BRI Weekly Economic Update W2 April 2026, diterbitkan 13 April 2026.
Tekanan inflasi terlihat jelas di sejumlah negara utama. Di Amerika Serikat, inflasi CPI naik dari 2,4% year on year pada Februari 2026 menjadi 3,3% pada Maret 2026. Di kawasan Euro, inflasi meningkat dari 1,9% menjadi 2,5%. Brazil naik dari 3,8% menjadi 4,1%, Filipina dari 2,4% menjadi 4,1%, dan Vietnam dari 3,4% menjadi 4,7%. Laporan BRI menilai lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok global, terutama akibat konflik di Timur Tengah, menjadi pendorong utama pembalikan arah inflasi tersebut.
Baca Juga
Perang Timur Tengah Tekan Pasar, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Di AS, situasi menjadi semakin rumit karena kenaikan inflasi terjadi ketika pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Klaim pengangguran awal meningkat menjadi 219 ribu pada 4 April 2026, sementara probabilitas konsumen yang memperkirakan tingkat pengangguran lebih tinggi dalam setahun ke depan melonjak dari 39,9% pada Februari 2026 menjadi 43,5% pada Maret 2026. Artinya, The Fed kini menghadapi dilema klasik: inflasi belum jinak, tetapi pasar tenaga kerja mulai melemah.
Dalam konteks itu, laporan BRI menilai sikap The Fed masih cenderung hawkish, meski sedikit lebih moderat dibanding pekan sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari indeks NLP The Fed yang turun menjadi 5,86 pada pekan kedua April 2026 dari 7,18 pada pekan pertama April 2026, tetapi tetap berada di zona positif, yang berarti bias kebijakan moneter masih condong ketat. Karena itu, pasar memperkirakan Fed Funds Rate (FFR) akan tetap berada di kisaran 3,75% sepanjang 2026 sebagai skenario dasar, dengan probabilitas dominan di atas 80%. Meski kontrak Fed Fund Futures mengindikasikan peluang FFR turun ke 3,50% pada akhir 2026, pasar sejauh ini belum melihat urgensi pemangkasan cepat.
Dari sini, pesan besarnya menjadi cukup jelas: suku bunga global, terutama di AS, diperkirakan tidak akan turun agresif dalam waktu dekat. Hal ini berimplikasi langsung terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena yield global yang tetap tinggi akan menjaga likuiditas tetap ketat dan menahan aliran modal asing.
Di dalam negeri, tekanan eksternal itu mulai tercermin pada pelemahan rupiah dan turunnya cadangan devisa. BRI mencatat mayoritas mata uang emerging markets menguat terhadap dolar AS pada pekan kedua April 2026, seiring turunnya indeks dolar AS. Namun rupiah justru melemah 0,57% secara mingguan, diiringi kenaikan seluruh tenor NDF yang menunjukkan tekanan depresiasi masih persisten. Pada saat yang sama, cadangan devisa Indonesia turun dari US$151,9 miliar pada Februari 2026 menjadi US$148,2 miliar pada Maret 2026, terutama karena kebutuhan stabilisasi rupiah dan penurunan komponen emas akibat efek valuasi.
Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran moneter domestik ikut menyempit. Laporan BRI menilai Bank Indonesia cenderung masih akan menjaga stance ketat, antara lain untuk menopang stabilitas nilai tukar. Hal itu tercermin dari kenaikan yield SRBI di seluruh tenor pada pekan kedua April 2026 serta meningkatnya outstanding instrumen tersebut. BRI juga secara eksplisit menyebut ada ekspektasi BI-Rate akan kembali ditahan pada RDG BI 22 April 2026. Dengan demikian, jika The Fed tetap berhati-hati dan rupiah masih berada dalam tekanan, peluang penurunan suku bunga domestik dalam waktu dekat juga menjadi terbatas.
Di sisi lain, permintaan domestik memang belum runtuh, tetapi mulai menunjukkan tanda moderasi. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun dari 125,2 pada Februari 2026 menjadi 122,9 pada Maret 2026. Meski masih berada di zona optimistis karena tetap di atas level 100, pelemahan paling dalam terjadi pada komponen ekspektasi ke depan. Ini menandakan rumah tangga masih relatif percaya diri, tetapi mulai lebih berhati-hati memandang prospek ekonomi ke depan.
Menariknya, porsi penggunaan pendapatan untuk konsumsi justru naik menjadi 72,2% pada Maret 2026, didorong faktor musiman Ramadan dan Idulfitri, sementara porsi pembayaran cicilan turun ke 10,2% dan porsi menabung relatif stabil di 17,6%. Preferensi menabung juga kembali bergeser ke tabungan dan deposito, yang naik menjadi 41,2%, menggeser emas menjadi 39,7%. Pergeseran ini memperlihatkan bahwa masyarakat cenderung kembali memilih instrumen yang lebih likuid dan aman di tengah ketidakpastian.
Baca Juga
Risalah FOMC: The Fed Masih Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Tahun Ini
Bagi perbankan, kombinasi ini melahirkan tantangan ganda. Di satu sisi, ruang penurunan cost of fund menjadi makin terbatas karena suku bunga global dan domestik diperkirakan tetap tinggi lebih lama. Di sisi lain, permintaan kredit konsumsi memang masih punya ruang tumbuh karena keyakinan konsumen tetap berada di level optimistis dan porsi konsumsi meningkat. Namun akselerasinya diperkirakan tidak terlalu kuat karena ekspektasi rumah tangga terhadap masa depan mulai menurun.
BRI juga mengingatkan bahwa risiko pasar keuangan belum sepenuhnya reda. Meski volatilitas global sempat menurun setelah gencatan senjata AS-Iran dan pembukaan sementara blokade Selat Hormuz pada 8 April 2026, harga minyak Brent masih berada di level tinggi, yakni US$95,2 per barel pada pekan kedua April 2026, dan berpotensi kembali naik seiring rencana Presiden Donald Trump memblokade kapal yang menuju dan berasal dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz. Jika tensi geopolitik kembali memanas, tekanan inflasi global dapat meningkat lagi dan memperkuat alasan bank sentral untuk menahan suku bunga lebih lama.
Karena itu, pesan utama laporan ini adalah bahwa dunia tampaknya belum memasuki fase suku bunga rendah. Inflasi energi, gangguan rantai pasok, ketegangan geopolitik, dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang telah membuat ruang pelonggaran moneter menyempit tajam. Dalam lanskap seperti itu, baik The Fed maupun Bank Indonesia diperkirakan akan tetap berhati-hati, sehingga suku bunga berpeluang besar bertahan hingga akhir tahun.

