Cadangan Devisa Terus Menurun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Cadangan devisa Indonesia terus menunjukkan tren penurunan sejak awal 2026, menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik belum sepenuhnya mereda. Di tengah gejolak global, kenaikan harga energi, dan tekanan terhadap rupiah, otoritas moneter tampak harus terus menguras amunisi valas untuk menjaga stabilitas pasar.
Laporan BRI Weekly Economic Update W2 April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, Senin (13/04/2026), mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi US$148,2 miliar, dari US$151,9 miliar pada Februari 2026. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan sejak awal tahun, setelah pada Januari 2026 cadangan devisa masih berada di kisaran US$154,6 miliar. Sebelumnya, posisi cadangan devisa tercatat US$156,5 miliar pada Desember 2025 dan US$157,1 miliar pada November 2025. Sumber: BRI Weekly Economic Update W2 April 2026, 13 April 2026.
Menurut BRI, penurunan cadangan devisa pada Maret terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni berkurangnya komponen valuta asing untuk kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah serta turunnya komponen emas akibat valuation effect. Dari sisi komposisi, komponen valas turun sekitar US$2 miliar, sedangkan komponen emas menyusut sekitar US$1,7 miliar. Penurunan emas ini juga dipengaruhi koreksi harga emas sekitar 11,6% secara bulanan menjadi US$4.668 pada Maret 2026.
Baca Juga
Cadangan Devisa Turun, Rupiah Tertekan, Surplus Perdagangan Terancam Menyusut
Dengan kata lain, penurunan cadangan devisa bukan semata persoalan teknis neraca pembayaran, melainkan mencerminkan upaya aktif Bank Indonesia menahan tekanan terhadap rupiah di tengah volatilitas pasar global. Ini terlihat sejalan dengan temuan BRI bahwa rupiah justru melemah ketika mayoritas mata uang negara berkembang menguat terhadap dolar AS. Pada pekan kedua April 2026, rupiah tercatat melemah 0,57% secara mingguan, sementara tekanan depresiasi di pasar non-deliverable forward atau NDF meningkat di seluruh tenor.
Tekanan terhadap rupiah itu sendiri muncul di tengah lanskap global yang belum sepenuhnya bersahabat. BRI mencatat estimasi inflasi CPI global naik menjadi 3,71% pada awal April 2026, dipicu lonjakan harga energi dan tekanan rantai pasok. Inflasi meningkat secara luas di berbagai negara, baik maju maupun berkembang. Di Amerika Serikat, inflasi CPI melonjak dari 2,4% pada Februari menjadi 3,3% pada Maret 2026. Di kawasan euro, inflasi naik dari 1,9% menjadi 2,5%. Kenaikan ini membuat bank-bank sentral global cenderung lebih hati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.
Dalam konteks itu, pasar bahkan memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75% sepanjang 2026. Artinya, ruang pelonggaran moneter global menjadi makin sempit, dolar tetap kuat secara struktural, dan tekanan terhadap aliran modal ke emerging markets, termasuk Indonesia, masih berpotensi berlanjut. Kondisi seperti ini lazimnya membuat bank sentral di negara berkembang harus bekerja lebih keras menjaga stabilitas kurs, termasuk dengan intervensi valas yang menggerus cadangan devisa.
Di dalam negeri, penurunan cadangan devisa juga terjadi ketika indikator konsumsi mulai menunjukkan moderasi. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia turun dari 125,2 pada Februari 2026 menjadi 122,9 pada Maret 2026. Meski masih berada di zona optimistis, penurunan itu terutama terjadi pada komponen ekspektasi ke depan. Ini menandakan rumah tangga mulai lebih berhati-hati memandang prospek ekonomi, terutama di tengah kenaikan harga energi global dan ketidakpastian geopolitik.
BRI juga mencatat bahwa konsumen memang meningkatkan porsi penggunaan pendapatan untuk konsumsi menjadi 72,2% pada Maret 2026, naik dari 71,6% pada Februari, seiring momentum Ramadan dan persiapan Idulfitri. Namun, pada saat yang sama, preferensi menabung kembali bergeser ke instrumen yang lebih aman dan likuid seperti tabungan dan deposito. Ini menunjukkan bahwa kehati-hatian masih kuat, dan optimisme rumah tangga belum sepenuhnya solid.
Menariknya, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini sebenarnya masih relatif aman menurut standar internasional. Per Maret 2026, posisi tersebut setara dengan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Dengan demikian, secara nominal, bantalan eksternal Indonesia masih cukup tebal.
Namun, ukuran kecukupan semata tidak boleh meninabobokan. Yang lebih penting adalah arah pergerakannya. Jika cadangan devisa terus menurun dalam beberapa bulan ke depan, sementara tekanan terhadap rupiah dan kebutuhan stabilisasi tetap tinggi, ruang kebijakan tentu akan makin menyempit. Apalagi, meskipun volatilitas pasar sempat menurun setelah adanya gencatan senjata sementara AS-Iran pada 8 April 2026, BRI mengingatkan risiko dapat kembali meningkat akibat belum tercapainya kesepakatan damai permanen dan rencana Presiden Donald Trump memblokade kapal yang menuju dan berasal dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.
Kekhawatiran itu beralasan. Harga minyak Brent memang sempat turun ke US$95,2 per barel pada pekan kedua April 2026, tetapi BRI menegaskan harga berpotensi kembali meningkat jika ketegangan di Selat Hormuz memburuk. Bila itu terjadi, Indonesia menghadapi tekanan ganda: biaya energi naik, rupiah tertekan, dan cadangan devisa kembali terpakai untuk meredam gejolak.
Baca Juga
Cadangan Devisa Turun, Menko Airlangga: Aturan DHE SDA Tinggal Sosialisasi
Di pasar keuangan domestik, situasinya juga belum sepenuhnya pulih. Meski IHSG menguat 6,14% pada pekan kedua April 2026, investor asing masih membukukan net outflows sebesar US$0,19 miliar di pasar saham. Di pasar obligasi, memang terjadi net inflows asing sebesar US$0,09 miliar, tetapi nilainya menurun dibanding pekan sebelumnya. Bank Indonesia pun terus mengintensifkan operasi moneternya melalui SRBI untuk menjaga stabilitas rupiah, terlihat dari naiknya yield SRBI di seluruh tenor serta meningkatnya outstanding instrumen tersebut.
Semua itu menunjukkan satu hal: penurunan cadangan devisa bukanlah peristiwa berdiri sendiri. Ia merupakan cermin dari tekanan eksternal yang masih besar, ketahanan domestik yang mulai diuji, dan mahalnya biaya menjaga stabilitas di tengah dunia yang makin tidak pasti.
Dalam jangka pendek, Indonesia memang masih memiliki bantalan yang memadai. Namun, tren penurunan cadangan devisa ini patut diwaspadai serius. Sebab, bila perang berkepanjangan di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga minyak, memperkuat inflasi global, dan menahan suku bunga tinggi lebih lama, tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik bisa kembali membesar. Dalam kondisi seperti itu, cadangan devisa akan terus menjadi garis pertahanan pertama—dan setiap penurunannya harus dibaca bukan hanya sebagai angka statistik, tetapi sebagai alarm atas meningkatnya biaya mempertahankan stabilitas ekonomi nasional.

