AS-Iran Gencatan Senjata, Rupiah dan Mata Uang di Asia Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sepakat untuk menangguhkan rencana serangan ke Iran. Pada Selasa malam, hanya beberapa jam sebelum serangan yang direncanakan, Trump melalui platformnya, Truth Social, mengumumkan bahwa ia membatalkan rencana tersebut.
Dilaporkan Al Jazeera, Trump menyebut keputusan itu sebagai langkah menuju penyelesaian, namun memperingatkan bahwa hal tersebut disertai syarat— yakni Iran harus membuka kembali Selat Hormuz.
“Berdasarkan pembicaraan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, yang meminta agar saya menahan kekuatan destruktif yang akan dikirim malam ini ke Iran, serta dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu,” tulis Trump.
Tak lama setelah pesan Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa kesepakatan sementara telah dicapai.
Baca Juga
Rupiah Tembus Rp17.105 per Dolar AS, BI Prioritaskan Stabilitas Pasar
“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” tulis Araghchi.
“Selama periode dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis.”
Akibat berita ini, hampir seluruh mata uang di dunia mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan juga terjadi pada rupiah.
Bloomberg menunjukkan rupiah terapresiasi 0,72% ke level Rp 16.981 per US$ pada Rabu (8/4/2026) pukul.09.00 WIB. Penguatan juga terjadi pada hampir seluruh mata uang mitra dagang Indonesia di Asia.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyatakan sentimen pasar berubah karena gencatan senjata selama dua minggu, yang memberikan ruang singkat bagi mediasi diplomatik. Meski demikian, kekhawatiran inflasi tetap tinggi.
"Rilis data CPI AS bulan Maret diharapkan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai tekanan harga yang berpotensi terkait dengan konflik yang sedang berlangsung," kata Andry.
Ekspektasi inflasi median satu tahun ke depan yang diukur oleh The Fed New York naik menjadi 3,4% pada Maret 2026 dari 3% pada bulan sebelumnya, tertinggi sepanjang tahun ini. Ekspektasi konsumen terhadap kenaikan harga bensin melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2022 seiring pecahnya perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi acuan.
Ekspektasi inflasi juga meningkat untuk makanan dan sewa rumah. Sementara itu, ekspektasi inflasi untuk horizon tiga tahun ke depan naik tipis 0,1 poin persentase menjadi 3,1% dan tidak berubah di 3% untuk horizon lima tahun ke depan pada Maret.
Pesanan baru barang tahan lama buatan AS turun 1,4% dibanding bulan sebelumnya menjadi US$ 315,5 miliar pada Februari 2026, melanjutkan revisi penurunan 0,5% pada bulan sebelumnya. Ini merupakan penurunan ketiga berturut-turut, berlawanan dengan indikator utama sektor yang sebelumnya mencerminkan permintaan lebih kuat bagi produsen barang.

