Lonjakan Harga Energi Akibat Perang Iran Mulai Terasa, Inflasi Maret 2026 Naik 3,48%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Inflasi Indonesia pada Maret 2026 tercatat 3,48% secara tahunan (year on year/yoy), sedikit melandai dibanding bulan sebelumnya, namun tetap berada pada level tinggi akibat kombinasi tekanan global dan domestik, terutama dari lonjakan harga energi, kenaikan biaya logistik, serta faktor musiman menjelang Idul Fitri. Jika Perang AS-Israel vs Iran berlanjut, risiko lonjakan inflasi akan meningkat.
Gambaran itu tertuang dalam Regular Economic Update: Laporan Inflasi Indonesia Maret 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, diterbitkan di Jakarta, 1 April 2026. Laporan tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Di tingkat global, proses disinflasi tertahan akibat kembali naiknya tekanan rantai pasok dan lonjakan harga komoditas, terutama energi dan pangan. Sementara di dalam negeri, kenaikan harga bahan pangan utama dan BBM non-subsidi menambah tekanan terhadap harga-harga konsumen.
Dalam laporan itu, BRI menegaskan bahwa meski inflasi Indonesia masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%, risiko dari sisi eksternal kini membesar, terutama sejak pecahnya perang Iran vs Israel-AS, pada 28 Februari 2026.
Tekanan global itu terlihat jelas dari kenaikan harga minyak dunia. Harga Brent pada Maret 2026 melonjak signifikan dan rata-rata berada di US$99,6 per barel, bahkan dalam salah satu titik mencapai US$118,4 per barel. Kenaikan juga terjadi pada harga batubara, yang naik menjadi US$142,5 per ton, sementara komoditas pangan seperti CPO, kedelai, dan beras gabah global juga bergerak naik.
Menurut laporan BRI, lonjakan harga minyak terutama didorong oleh faktor risiko geopolitik, bukan semata-mata gangguan fundamental pasokan global. Artinya, pasar sedang menambahkan risk premium yang besar ke harga energi karena ketidakpastian konflik di Timur Tengah.
Baca Juga
Ancaman Trump ke Iran Kerek Harga Minyak Mentah dan Dolar AS
Dampaknya langsung terasa pada proyeksi inflasi global. Estimasi inflasi CPI global harian versi Bloomberg naik tajam menjadi sekitar 3,7% yoy pada 31 Maret 2026, setelah sebelumnya sempat turun ke kisaran 3,2%. BRI mencatat terdapat korelasi historis yang cukup kuat antara harga minyak Brent dan inflasi global, dengan koefisien sekitar +0,69. Ini berarti setiap lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik berpotensi cepat menjalar ke biaya transportasi, logistik, dan produksi secara lebih luas.
Selain energi, tekanan biaya global juga datang dari rantai pasok. BRI mencatat Global Supply Chain Pressure Index (GSCPI) kembali berada di atas level normal historis. Kenaikan biaya logistik juga tercermin dari membaiknya Baltic Dry Index (BDI) dan Shanghai Containerized Freight Index (SCFI) dibanding awal 2025. Kondisi ini memperbesar risiko imported inflation, terutama bagi negara berkembang yang lebih rentan terhadap pass through biaya global.
Di sisi domestik, tekanan harga selama Maret 2026 juga meningkat cukup luas. Kenaikan terjadi pada mayoritas bahan pangan utama, seperti beras, daging ayam, daging sapi, telur, cabai, minyak goreng, dan gula. Hanya bawang putih yang tercatat mengalami penurunan secara bulanan. Pada saat yang sama, harga BBM non-subsidi juga naik, yang berpotensi menambah tekanan lanjutan melalui kenaikan biaya transportasi.
BRI menilai momentum Idul Fitri ikut memperkuat tekanan musiman, terutama pada komoditas yang sensitif terhadap lonjakan permintaan. Karena itu, walaupun inflasi tahunan sedikit melandai, tekanan harga bulanan masih cukup kuat di banyak daerah.
Dari sisi struktur, inflasi Indonesia pada Maret 2026 masih lebih banyak ditopang oleh komponen administered prices atau harga-harga yang diatur pemerintah. Inflasi kelompok ini pada kuartal I 2026 tercatat 6,08% yoy, jauh lebih tinggi dibanding inflasi inti yang tetap stabil di 2,52% yoy. Sementara itu, inflasi barang bergejolak atau volatile goods justru menurun menjadi 4,24% yoy.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa meski headline inflation masih relatif tinggi, tekanan inflasi yang lebih fundamental belum menunjukkan kenaikan yang kuat dan persisten. Dengan kata lain, lonjakan inflasi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan menguatnya permintaan domestik, melainkan lebih banyak berasal dari faktor penawaran, harga yang diatur pemerintah, dan efek basis rendah atau low base effect.
BRI bahkan menegaskan bahwa inflasi inti Indonesia masih berada di bawah rata-rata pra-pandemi 2017–2019 yang sebesar 3,03%. Hal itu menjadi indikasi bahwa pemulihan permintaan domestik belum sepenuhnya kuat. Kontributor inflasi juga menunjukkan bahwa dorongan dari sisi permintaan masih lebih kecil dibanding faktor pasokan.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, tekanan inflasi masih tinggi pada sejumlah komponen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat menonjol, di samping kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok yang terkait dengan administered prices. Ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak lagi semata berada di pangan, tetapi mulai lebih menyebar ke jasa dan pengeluaran rumah tangga lainnya.
Secara spasial, mayoritas provinsi pada Maret 2026 berada di Kuadran II, yakni kelompok dengan inflasi tahunan yang relatif terjaga tetapi masih mengalami kenaikan secara bulanan. Namun BRI juga mencatat jumlah provinsi di Kuadran I masih cukup besar, yang berarti banyak wilayah menghadapi kombinasi inflasi tahunan tinggi sekaligus kenaikan harga bulanan. Dengan demikian, tekanan inflasi nasional belum bisa disebut sepenuhnya reda.
Meski demikian, BRI masih memproyeksikan inflasi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI). Dalam skenario dasar, inflasi diperkirakan sekitar 2,86% pada akhir 2026. Sementara dalam skenario dampak perang, inflasi diproyeksikan bisa mencapai 3,42%, lebih tinggi dari baseline, tetapi masih belum keluar dari batas atas target BI.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Setelah Trump Isyaratkan Akhiri Perang Iran
Artinya, shock eksternal akibat konflik geopolitik berpotensi menahan proses normalisasi inflasi, tetapi belum mendorong inflasi Indonesia lepas kendali. Ekspektasi inflasi penjual ritel juga dinilai masih relatif terjaga, meski tetap memiliki keterkaitan signifikan dengan inflasi aktual dalam jangka pendek.
Bagi kebijakan moneter, kondisi ini menciptakan dilema. Dari sisi inflasi, ruang pelonggaran sebenarnya masih terbuka karena tekanan inti relatif rendah. Namun dari sisi pasar keuangan, stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi faktor pembatas utama. Laporan BRI mencatat kurs rupiah sempat berada di level Rp16.995 per dolar AS, sehingga Bank Indonesia diperkirakan akan tetap berhati-hati.
Sinyal pasar yang dihimpun BRI menunjukkan probabilitas tertinggi BI Rate bertahan di 4,75% hingga akhir 2026, atau dengan kata lain ruang penurunan suku bunga diperkirakan terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama yakni dinamika rupiah, perkembangan inflasi, dan defisit APBN.
Untuk sektor perbankan, BRI menilai inflasi yang masih terjaga memang mendukung ekspansi kredit secara moderat. Namun volatilitas global, harga energi, dan ketidakpastian geopolitik menuntut perbankan lebih disiplin dalam menjaga likuiditas dan pengelolaan aset liabilitas. Bank juga diminta lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama ke sektor-sektor dengan margin tipis yang rentan terhadap kenaikan biaya energi, logistik, dan bahan baku.
Laporan ini memberi pesan yang cukup jelas yakni inflasi Indonesia memang belum keluar jalur, tetapi tekanan baru dari luar negeri sedang terbentuk. Perang di Timur Tengah, lonjakan harga energi, dan kenaikan biaya logistik global kini menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah inflasi, suku bunga, dan strategi bisnis perbankan nasional dalam beberapa kuartal ke depan.

