BOE Tahan Suku Bunga di 3,75, Waspadai Lonjakan Inflasi Akibat Perang Iran
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Bank sentral Inggris Bank of England (BOE) memutuskan menahan suku bunga acuannya di level 3,75% di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang Iran yang memicu lonjakan harga energi.
Keputusan ini diambil oleh Komite Kebijakan Moneter (MPC) dalam rapat pada akhir April, dengan suara 8-1. Satu-satunya yang berbeda pendapat adalah Kepala Ekonom BOE Huw Pill yang menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Baca Juga
Inggris Tahan Suku Bunga di 3,75%, BOE Isyaratkan Pelonggaran Bertahap
Bank sentral menilai bahwa konflik di Timur Tengah akan terus mendorong kenaikan harga energi, sementara kemampuan kebijakan moneter untuk meredam dampak tersebut sangat terbatas.
“Konflik ini membuat prospek harga energi global sangat tidak pasti. Kebijakan moneter tidak dapat memengaruhi harga energi, namun akan diarahkan untuk memastikan inflasi kembali ke target 2% secara berkelanjutan,” demikian pernyataan BOE, Kamis (30/4/2026), dikutip dari CNBC.
Data terbaru menunjukkan inflasi Inggris naik menjadi 3,3% pada Maret, dari 3% pada bulan sebelumnya, terutama didorong oleh kenaikan harga bahan bakar.
BOE memperingatkan bahwa tekanan inflasi kemungkinan akan meningkat lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan seiring efek kenaikan energi menyebar ke seluruh ekonomi. Risiko efek putaran kedua—seperti kenaikan upah akibat biaya hidup yang meningkat—juga menjadi perhatian utama.
Meski demikian, pasar tenaga kerja mulai melonggar dan kondisi keuangan yang lebih ketat diperkirakan dapat membantu meredam inflasi dalam jangka menengah.
3 Skenario
BOE juga menyusun tiga skenario ke depan. Dalam skenario ringan, inflasi diperkirakan naik ke 3,5% sebelum turun kembali. Namun dalam skenario terburuk, inflasi bisa melonjak hingga 6,2% pada awal 2027 dan tetap di atas target hingga 2029.
Dalam kondisi tersebut, suku bunga diperkirakan harus dinaikkan hingga sekitar 5,25%, meskipun langkah itu berisiko memperlebar kesenjangan output dan meningkatkan potensi resesi.
Wakil Gubernur Clare Lombardelli menegaskan bahwa skenario ekstrem tersebut bukan proyeksi utama, namun tetap realistis dan membutuhkan respons kebijakan yang lebih agresif jika terjadi.

