BPS: Impor Februari Tercatat US$ 20,89 Miliar, Naik 10,18% YoY
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan impor pada Februari 2026. Pada bulan tersebut impor tercatat naik sebesar 10,18% secara tahunan menjadi US$ 20,89 miliar.
Naiknya impor Februari 2026 terjadi karena peningkatan impor komoditas nonmigas sebesar 18,24% secara tahunan. Nilai impor nonmigas tercatat sebesar US$ 18,9 miliar. Sementara itu, impor migas terkontraksi cukup dalam hingga -30,36% secara tahunan menjadi US$ 2 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, andil dari peningkatan impor nonmigas tercatat sebesar 15,47%.
Berdasarkan penggunaan, terjadi peningkatan terhadap tiga jenis penggunaan barang impor secara tahunan. Barang konsumsi naik 19,84% secara tahunan menjadi US$ 1,76 miliar. Bahan baku atau penolong naik 4,25% menjadi US$ 14,52 miliar.
Impor barang modal melambung hingga 33,68% menjadi US$ 4,61 miliar. Andil peningkatan impor barang modal pada total impor yaitu sebesar 6,16%.
Baca Juga
Tepis Isu Impor, Wamentan: Kita Ekspor 2 Ribu Ton Beras ke Arab Saudi!
“Kenaikan barang modal sebagai pendorong utama karena kenaikannya impornya cukup besar,” kata Ateng, dalam paparan BPS, Rabu (1/4/2026).
Dengan kenaikan impor tersebut, impor secara kumulatif Januari-Februari 2026 tercatat sebesar US$ 42,09 miliar atau naik 14,44% secara tahunan. Negara asal impor berasal yaitu China sebesar US$ 15,68 miliar, Australia sebesar US$ 2,07 miliar, dan Singapura sebesar US$ 3,71 miliar.
Ateng mengatakan tiga komoditas utama impor yang mengalami kenaikan yaitu mesin atau peralatan mekanis, mesin atau perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik. Impor mesin atau peralatan mekanis tumbuh secara kumulatif sebesar 31,38% menjadi US$ 6,64 miliar. Impor mesin atau perlengkapan elektrik tumbuh kumulatif sebesar 24,53% menjadi US$ 5,66 miliar. Impor plastik dan barang dari plastik tumbuh kumulatif 6,79% menjadi US$ 1,82 miliar.
“Tiga komoditas ini memberikan kontribusi 38,23% terhadap total impor nonmigas,” kata dia.

