Ekonom: Kenaikan Harga Jelang Lebaran Bukan Karena Kelangkaan, Tapi 'Kemacetan' Distribusi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, tekanan terhadap harga pangan di berbagai daerah mulai merangkak naik. Namun, pengamat ekonomi menilai fenomena ini bukan disebabkan oleh krisis ketersediaan stok nasional, melainkan akibat gangguan pada jalur distribusi dan logistik.
Dalam sepekan terakhir, sejumlah komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, telur, hingga daging ayam menunjukkan tren kenaikan harga. Selain itu, terjadi disparitas harga yang cukup lebar antarwilayah, yang mengindikasikan adanya ketimpangan pasokan di tingkat daerah.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menjelaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase kritis di mana lonjakan mobilitas masyarakat mulai berbenturan dengan jalur logistik pangan.
"Ini bukan soal kita kekurangan pangan. Ini soal apakah pangan bisa sampai tepat waktu di tempat yang tepat. Ketika arus mudik memadat, distribusi ikut tersendat. Di situlah harga mulai naik, bukan karena scarcity (kelangkaan), tapi karena friksi," ujar Fakhrul dalam keterangannya, dikutip Jumat (20/3/2026).
Menurutnya, pergerakan pemudik yang terjadi lebih awal memicu pergeseran permintaan secara masif dari kota besar ke daerah tujuan. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi penyedia jasa logistik karena adanya potensi bottleneck atau penyumbatan distribusi akibat kepadatan lalu lintas.
Selain faktor fisik distribusi, Fakhrul memperingatkan adanya risiko perilaku pasar yang didorong oleh ekspektasi kenaikan harga. Jika pelaku pasar memprediksi harga akan melambung, mereka cenderung melakukan penyesuaian harga lebih awal atau bahkan menahan stok di tingkat distributor.
Baca Juga
Prabowo Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil dan Infrastruktur Siap Hadapi Lebaran 2026
"Ekspektasi bisa lebih berbahaya daripada realitas. Ketika pelaku pasar mulai percaya harga akan naik, maka harga akan benar-benar naik, bahkan sebelum ada gangguan nyata pada supply," tegasnya.
Menanggapi situasi ini, dunia usaha khususnya sektor ritel dan UMKM mulai melakukan antisipasi dengan menambah stok. Namun, ketidakpastian biaya logistik masih menjadi kekhawatiran utama.
Fakhrul menyarankan agar pemerintah tidak melakukan intervensi kebijakan yang terlalu agresif atau reaktif, seperti pembatasan pasar yang tidak terukur, karena justru dapat menciptakan distorsi baru.
Fokus utama pemerintah seharusnya adalah seperti menjamin kelancaran arus distribusi pangan di jalur-jalur mudik.
Kemudian ia juga mendorong agar pemerintah dapat memperkuat koordinasi lintas sektor untuk pengamanan jalur logistik prioritas. Tidak hanya itu, ia meminta agar pemerintah dapat menjaga transparansi informasi harga guna meredam spekulasi di tingkat pedagang.
"Lebaran adalah momen ketika ekonomi bergerak cepat dan luas. Kalau distribusi terganggu, maka yang macet bukan hanya jalan, tapi juga ekonomi kita," pungkas Fakhrul.

