Rupiah Berada di Zona Rp 16.965 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menjauh dari zona Rp 17.000 per US$. Pada perdagangan siang ini, rupiah bergerak di posisi Rp 16.965 per US$ pada Senin (9/3/2026) pukul 13.27 WIB.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini dipengaruhi faktor. Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan dolar AS erat hubungannya dengan terpilihnya pemimpin baru Iran, yaitu Mojtaba Khamenei.
“Sehingga kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan,” kata Ibrahim.
Ibrahim mengatakan Trump mengatakan ingin memusnahkan dan mengganti rezim yang ada di Iran. Kondisi ini membuat ketegangan di Timur Tengah berlanjut dan semakin tinggi akibat penutupan selat Hormuz.
“Selat Hormuz sendiri terdiri dari kilang-kilang Uni Emirate Arab, Irak, Arab Saudi, dan lain-lain, merekapun mengurangi produksinya,” ujar dia.
Baca Juga
Rupiah Sempat Tembus Rp 17.000 per US$, Terdesak Harga Minyak Dunia
Dengan berkurangnya produksi ini, harga minyak mentah dunia akan naik. Ibrahim mengatakan sejumlah analis mengatakan bahwa harga minyak mentah ini dapat mencapai US$ 200 per barel dalam jangka waktu sebulan ini.
Kenaikan harga minyak mentah dunia ini akan membuat terjadinya krisis ekonomi. Mengingat 2008 lalu, di mana perang AS pelus sekutunya Irak terjadi setelah perang terjadi krisis ekonomi yang cukup luar biasa.
Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati pernyataan beberapa menteri mengenai ketersediaan BBM. Dia mengatakan bahwa cadangan BBM Indonesia masih cukup untuk 20 hari ke depan.
“Tapi kalau seandainya harga di atas US$ 92 itu adalah harga yang paling normal. Pemerintah masih bisa melakukan antisipasi,” kata dia.
Dengan kenaikan harga minyak yang lebih dari US$ 100, diprediksi defisit APBN akan mencapai 3,6% dari PDB. Jika benar terjadi, pemerintah perlu memangkas program prioritas dengan anggaran jumbo.
“Kemungkinan besar, pemerintah akan mengurangi anggaran untuk MBG,” kata dia.

