Rupiah Menguat di 16.880/US$ Dipicu Sinyal Meredanya Konflik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat di level 0,07% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (5/3/2026). Dengan posisi ini rupiah berada di level Rp 16.880 per US$.
Beberapa mata uang negara mitra dagang Indonesia juga terlihat menguat terhadap dolar AS. Yuan China menguat sebesar 0,09%, yen Jepang juga terpantau menguat 0,11%, ringgit Malaysia menguat 0,13%, dan peso Filipina menguat 0,20%, bath Tailan juga menguat 0,06%.
Sementara itu, dolar Singapura melemah sebesar 0,06%, rupee India juga melemah 0,73%, dan dolar Hongkong melemah 0,01%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 3,65 bps ke 4,10% (-7,1 bps ytd). Kondisi tersebut terjadi di tengah ketegangan geopolitik juga menunjukkan tanda-tanda mereda ketika Presiden AS, Donald Trump berupaya menenangkan pasar dengan menawarkan asuransi risiko dan pengawalan angkatan laut bagi kapal komersial yang melintasi Teluk Persia. Sementara laporan lain menyebut bahwa pihak Iran telah menghubungi AS untuk menjajaki kemungkinan pembicaraan damai.
“Akibatnya, harga minyak dan gas mengalami penurunan. Pasar obligasi sebelumnya berada di bawah tekanan karena kekhawatiran bahwa perang dengan Iran dan lonjakan harga energi dapat memicu spiral inflasi,” kata Andry.
Baca Juga
BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah di Tengah Konflik AS-Iran
Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan tarif global 15% yang baru diumumkan Trump diperkirakan mulai berlaku akhir pekan ini. Dia memperkirakan tarif tersebut akan kembali ke level sebelumnya dalam waktu 5 bulan. Dari sisi data, Institute for Supply Management (ISP) Services Purchasing Managers Index (PMI) menunjukkan sektor jasa secara tak terduga mengalami ekspansi pada laju tercepat sejak pertengahan 2022.
ISM Services PMI AS naik menjadi 56,1 pada Februari 2026 dari 53,8 pada Januari, melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,5 dan mencatat ekspansi tercepat sejak Agustus 2022. Pertumbuhan didorong oleh lonjakan aktivitas bisnis, dengan subindeks naik ke 59,9 dari 57,4, level tertinggi sejak September 2024.
Pelaku pasar telah mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga, dengan pemangkasan berikutnya kini diperkirakan terjadi pada September, bukan Juli, meskipun dua kali pemangkasan masing-masing 25 bps masih diantisipasi sebelum akhir tahun.
Baca Juga
Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000 per US$, Tertekan Permintaan Aset 'Safe Haven'

