Bagikan

BI Diproyeksi Bakal Tahan Suku Bunga Acuan Lagi

Poin Penting

BI diproyeksi tahan BI Rate di 4,75% pada RDG Februari 2026.
Tekanan MSCI dan Moody’s picu arus modal keluar.
Inflasi 3,55% dan rupiah tertekan batasi ruang pelonggaran.

JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan kembali mempertahankan suku bunga acuannya. BI Rate kemungkinan akan bertahan di 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan langkah BI mempertahankan BI Rate sebagai bagian dari upaya untuk menjaga stabilitas rupiah. Ini diperlukan di tengah risiko pasar keuangan yang meningkat.

“Tekanan yang timbul akibat peringatan MSCI (Morgan Stanley Capital International) mengenai isu free float, ditambah dengan revisi Moody's terhadap prospek utang negara Indonesia dari stabil menjadi negatif, berpotensi menyebabkan kenaikan premi risiko dan volatilitas aliran modal yang cenderung meningkat,” kata Josua.

Dalam konteks ini, Josua memperkirakan BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor daripada pelonggaran moneter dalam jangka pendek. Sehingga, ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik.

Sementara itu, peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Teuku Riefqy mengatakan secara kumulatif Indonesia mencatat arus modal keluar sebesar US$ 1,06 miliar dalam 30 hari terakhir. Imbal hasil surat utang tenor 1 tahun juga melonjak dari 4,67% menjadi 4,87%. Ini mengindikasikan arus modal keluar di pasar obligasi di berbagai tenor surat utang.

Arus modal keluar dan kenaikan imbal hasil cenderung terbatas seiring pengumuman Moody’s. Dalam rangka mengurangi tekanan arus modal keluar, BI secara aktif meningkatkan kepemilikian surat utang pemerintah untuk mengurangi tekanan nilai tukar.

“Sebagai hasilnya, depresiasi rupiah relatif terbatas,” kata Teuku.

Baca Juga

BI Pertahankan BI Rate di 4,75% pada Januari 2026, Fokus Stabilkan Rupiah

Sejak akhir bulan lalu, rupiah hanya melemah sebesar 0,27% dan bahkan menguat sebesar 0,44% secara bulanan dalam 30 hari terakhir. Tetapi, rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,84% secara year-to-date dan terdepresiasi sebesar 3,74% secara tahunan dalam satu tahun terakhir, mencatatkan kinerja yang lebih buruk ketimbang mayoritas mata uang negara berkembang.

Kebanyakan nilai tukar negara berkembang bahkan mencatatkan apresiasi selama 2026, termasuk lira Brasil, ringgit Malaysia, rand Afrika Selatan, rubel Rusia, peso Filipina, yuan Tiongkok, dan baht Thailand. Tekanan besar pada rupiah yang muncul dari kekhawatiran investor terhadap kondisi domestik perekonomian dan pasar keuangan Indonesia, mendorong BI untuk melakukan intervensi dengan menggunakan cadangan devisanya untuk meringankan tekanan nilai tukar.

Indonesia saat ini sedang berada dalam tekanan. Di awal 2026, inflasi melonjak hingga 3,55% secara tahunan, sedikit melampaui batas atas target inflasi BI. Tekanan inflasi masih berlanjut seiring bencana alam yang terjadi di beberapa daerah sejak akhir tahun lalu mengganggu proses produksi dan pasokan barang di berbagai daerah.

Lebih lanjut, Indonesia segera memasuki periode Ramadan dan Idulfitri yang umumnya memicu kenaikan permintaan terhadap bahan pangan dan transportasi, memperpanjang tekanan inflasi di bulan mendatang. Dari sisi sektor keuangan, Indonesia menghadapi risiko kelayakan investasi dan kekhawatiran menurunnya minat investor pada pasar modal Indonesia dan menempatkan rupiah pada posisi yang rentan.

“Mempertimbangkan kondisi saat ini, Bank Indonesia sebaiknya mempertimbangkan menahan suku bunga acuannya di 4,75% pada rapat dewan gubernur mendatang sebagai langkah yang tepat menimbang pemotongan suku bunga berpotensi memperparah arus modal keluar dan kenaikan suku bunga acuan akan berdampak negatif terhadap permintaan sedangkan berbagai daerah di Indonesia masih dalam tahap pemulihan pasca bencana,” kata dia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024