Akui Ada Kelemahan Komunikasi, Pandu Sjahrir Akan Jelaskan Cara Kerja Danantara ke Moody’s
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Pandu Sjahrir akan menjelaskan cara kerja perusahaannya ke Moody’s, menyusul prospek negatif dari yang disampaikan Moody’s.
“Pada dasarnya, yang disampaikan Moody’s adalah soal komunikasi,” kata Pandu, saat acara China Conference Southeast Asia, di St Regis, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurut Pandu, Danantara akan berkomunikasi dengan Moody’s untuk menjelaskan bagaimana cara kerja sovereign wealth fund (SWF) bentukan Presiden Prabowo Subianto ini.
“Itu saja. Sesederhana itu. Dan ini adalah tugas kita,” jelas dia.
Pandu menjelaskan laporan itu menjadi bagian refleksi Danantara. Dia berjanji menyampaikan dengan jelas apa yang dikerjakan Danantara dengan baik dan terkoordinasi. Langkah ini penting mengingat dalam waktu dekat lembaga rating Fitch dan S&P juga akan melakukan assessment terhadap Indonesia.
“Tugas kita sederhana, yakni mampu berkomunikasi dengan baik karena sebenarnya kita memiliki banyak cerita positif untuk disampaikan,” ujar dia. Berikutnya Pandu pun bercerita bahwa selama ini Danantara memiliki kelemahan dalam memeparkan pencapaian target dan cara menjalankannya. Namun demikian Pandu menegaskan bahwa Indonesia memiliki perkembangan yang positif.
Baca Juga
Danantara Berpeluang Suntik Investasi ke Galangan Kapal Nasional
“Pertama, upaya pemberantasan korupsi yang nyata. Kedua, penguatan supremasi hukum. Tanpa kepastian hukum, orang tidak akan berani berinvestasi. Ketiga, yang harus terus kita lakukan adalah berkomunikasi, berkomunikasi, dan berkomunikasi,” kata dia.
Pandu menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,39% pada kuartal IV-2025 dan 5,11% secara tahunan. Inflasi Indonesia juga masih dalam rentang 2,5% plus minus 1%.
Pandu mengatakan bahwa Presiden Prabowo kini menitikberatkan pada pembangunan manusia. Dengan jumlah penduduk sekitar 300 juta orang, pemerintah fokus pada program makan gratis dan pendidikan.
“Secara politik mungkin tidak selalu populer, tetapi ini akan memberikan hasil dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Investasi pada sumber daya manusia adalah faktor paling penting agar Indonesia bisa naik dari peringkat ekonomi ke-15 atau ke-16 dunia menjadi lima besar,” kata dia.

