Rupiah Menguat, Imbas Pasar Antisipasi Data Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (9/2/2026). Rupiah menguat tipis terhadap dolar AS sebesar 0,03% ke posisi Rp 16.871 per US$.
Dolar AS bergerak melemah pada awal pekan ini. Kondisi ini membuat sejumlah mata uang bergerak menguat.
Yen Jepang menguat 0,27%. Pebguatan serupa juga terjadi terhadap yen China sebesar 0,02%.
Mata uang negara mitra dagang Indonesia bergerak berbeda terhadap melemahnya dolar AS. Rupee India bergerak melemah 0,34%, won Korea Selatan melemah 0,04%, dan dolar Singapura bergerak melemah 0,02%.
Di sisi lainnya, terjadi penguatan mata uang negara mitra dagang terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,22% dan ringgit Malaysia menguat 0,37%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan Indeks Dolar AS (DXY) sedikit melemah ke bawah 98 pada Jumat, namun tetap berada dekat level tertinggi dan menutup pekan pertama Februari dengan kenaikan hampir 0,9%.
Baca Juga
Dolar AS mendapat dukungan dari statusnya sebagai aset safe haven sepanjang pekan, seiring data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu kekhawatiran terhadap kesehatan ekonomi. Kondisi ini, ditambah aksi jual saham teknologi dan penurunan tajam aset kripto, mendorong investor melakukan flight to safety.
Sentimen pasar membaik pada Jumat seiring rebound saham teknologi dan data awal yang menunjukkan indeks sentimen konsumen Universitas Michigan secara tak terduga naik ke level tertinggi dalam enam bulan.
Ke depan, investor akan mencermati rilis laporan tenaga kerja AS yang tertunda serta data inflasi (CPI) pekan depan untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Saat ini, pasar memperkirakan penurunan suku bunga The Fed sekitar 50 bps tahun ini.
Penundaan data akibat penutupan sebagian pemerintahan AS menyebabkan laporan tenaga kerja AS dan data CPI dirilis pada pekan ini, yang diperkirakan akan berdampak pada kedua mandat utama Federal Reserve. Selain itu, data penjualan ritel dan biaya tenaga kerja juga akan menjadi perhatian.

