Analis Sebut Rupiah Melemah Bukan karena Kabar Thomas Djiwandono Jadi Calon Deputi Gubernur BI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi membantah kabar bahwa masuknya Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono dalam bursa calon deputi gubernur Bank Indonesia (BI) yang mendorong pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
“Kalau Purbaya (Menteri Keuangan) mengatakan karena Thomas Djiwandono akan dijadikan deputi (gubernur BI) itu nggak ada (kaitannya),” kata Ibrahim, kepada investortrust.id, Senin (19/1/2026).
Ibrahim justru memandang positif masuknya Thomas ke jajaran petinggi BI. “Seharusnya malah bagus, dari wamenkeu kemudian dia pindah ke deputi, ya mungkin untuk memperkuat BI," ujar dia.
Menurut Ibrahim masuknya keponakan Presiden Prabowo Subianto ke BI justru akan memperkuat komunikasi antara Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal dan BI sebagai otoritas moneter.
Dalam pandangan Ibrahim, pelemahan rupiah terjadi karena masalah ekonomi global. Utamanya karena memanasnya geopolitik akibat keinginan Amerika Serikat (AS) menduduki Greenland.
Baca Juga
Purbaya Tepis Spekulasi Pertukaran Thomas–Juda Bakal Ganggu Independensi BI
“Pasukan NATO sudah datang di Greenland, kemudian Trump (Presiden AS) mengancam mengenakan tarif 10%. Jadi Juni nanti berlaku (tarif) 25% untuk delapan negara di Eropa (yang tidak mendukung aneksasi Greenland oleh AS),” kata dia.
Sementara itu, di dalam negeri terdapat ketakutan para investor terhadap defisit neraca perdagangan yang melebar. Pada APBN 2025, defisit tercatat sebesar 2,92% dari PDB.
Ibrahim menyoroti pendekatan pelebaran defisit yang diambil Purbaya dengan memaksakan belanja modal besar-besaran di tengah kontraksi penerimaan pajak.
“Akibatnya, rupiah mengalami pelemahan,” ujar dia.
Pada perdagangan hari ini, Ibrahim sempat mencatat pelemahan rupiah mencapai -73 poin. Di pasar Non-Deliverable Forward atau NDF, rupiah sudah sempat menyentuh level Rp 17.030 per US$.
Baca Juga
Di Balik Pencalonan Deputi Gubernur BI, Muncul Sinyal Tukar Posisi Thomas Djiwandono–Juda Agung
“Kalau di DNDF [Domestic Non-Deliverable Forward] masih di bawah. Saya perkirakan besok pun belum tentu Rp 17.000 mungkin hari Rabu atau Kamis-lah karena besok bersamaan dengan RDG BI,” kata dia.
Sebelumnya diberitakan, Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat rupiah melemah di posisi Rp 16.935 per US$. Sementara itu, papan data Bloomberg mencatat penutupan rupiah di pasar spot sebesar Rp 16.955 per US$.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan rupiah melemah mendekati Rp 17.000 per US$ tersebut. Salah satunya faktor sentimen yang mengarahkan pasar berspekulasi terhadap pencalonan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
“Jadi mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas ke sana (BI), wah orang spekulasi dia akan independensinya hilang,” ujar Purbaya, di Gedung Nusantara I, DPR, Jakarta, Senin (19/1/2026).

