Tekanan Dolar Menguat, Rupiah Melemah ke Rp 16.800an
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal 2026 setelah menembus Rp 16.851 per dolar AS pada Senin (12/1/2026), mencerminkan tekanan eksternal kuat dari pergerakan mata uang global dan sentimen pasar yang masih rapuh.
Bank Indonesia (BI) mencatat penutupan rupiah pada Jumat (9/1/2026) mencapai Rp 16.815 per dolar AS menandai pelemahan beruntun di tengah penguatan dolar AS secara luas. Kondisi ini terjadi saat pelaku pasar global mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter bank sentral setempat.
Berdasarkan pantauan di papan data Bloomberg, sejumlah mata uang Asia mengalami koreksi serupa dengan rupiah. Rupee India melemah 0,07% terhadap dolar AS, yen Jepang terkoreksi 0,11%, dan won Korea Selatan melemah 0,47%. Pergerakan ini menunjukkan tekanan yang merata di kawasan seiring menguatnya dolar AS.
Baca Juga
Di sisi lain, yuan China menguat 0,04% terhadap dolar AS. Penguatan juga terjadi pada euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya yang masing-masing naik 0,17% dan 0,15%, menandakan respons pasar yang berbeda di kawasan Eropa.
Mitra dagang Indonesia di Asia justru mencatat penguatan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menguat 0,19%, peso Filipina naik 0,01%, dolar Singapura menguat 0,05%, dan baht Thailand menguat 0,32%, memberikan kontras terhadap tekanan yang dialami rupiah.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro, menjelaskan pasar mengamati data terbaru pasar tenaga kerja Amerika Serikat karena berimplikasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS.
Pertumbuhan lapangan kerja di AS melambat dari perkiraan. Perekonomian AS hanya menambah sekitar 50.000 lapangan kerja, jauh di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu penyesuaian ekspektasi investor terhadap prospek suku bunga acuan. “Ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa the Fed berpotensi mulai memangkas suku bunga pada paruh akhir 2026,” kata Andry.
Tingkat pengangguran turun tipis ke 4,4%. Data ini mengindikasikan pelonggaran kondisi pasar tenaga kerja yang berlangsung secara bertahap, sekaligus memberi ruang bagi bank sentral untuk bersikap lebih akomodatif.
Baca Juga
Selain faktor domestik AS, Andry mencermati sentimen risiko global yang masih rapuh di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Langkah AS terhadap sejumlah negara, termasuk Venezuela dan Greenland, serta ketidakstabilan politik di Iran, telah menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global dan stabilitas pasar.
Ketidakpastian tersebut memperbesar kehati-hatian investor dalam menempatkan dana di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang. Dampaknya, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat.
Dengan kondisi ini, rupiah diprediksi akan bergerak di atas Rp 16.700 per dolar AS atau dalam rentang Rp 16.777 hingga Rp 16.875 per dolar AS seiring pasar menunggu kepastian arah kebijakan The Fed dan perkembangan tensi geopolitik global.

