Studi Indef: Dampak MBG Jangka Panjang dan Bertahap
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program strategis nasional dinilai memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi Indonesia, terutama melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Namun, dampak tersebut bersifat moderat, bertahap, dan lebih terasa dalam jangka panjang ketika generasi penerima memasuki usia produktif.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikkurahman, dalam pemaparan hasil kajian terbaru Indef yang menggunakan Overlapping Generation Indonesia Model (OG-IDN), model ekonomi makro dinamis yang dikembangkan bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/UN DESA) dan disesuaikan dengan karakteristik Indonesia .
“Program MBG bukan belanja konsumtif, melainkan investasi sumber daya manusia (SDM). Dampaknya terhadap ekonomi memang kecil, tetapi persisten dan antargenerasi,” ujar Rizal secara daring, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga
Zulhas Usul Pembukaan Keran Impor Sapi Perah demi Topang Kebutuhan Susu MBG
Rizal menjelaskan, kajian ini berangkat dari tantangan struktural pembangunan gizi nasional, khususnya tingginya prevalensi stunting yang masih berada di atas ambang batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Meski tren stunting menunjukkan penurunan, lajunya dinilai mulai melambat dan masih timpang antarwilayah.
Kondisi gizi yang belum optimal, kata dia, berimplikasi langsung terhadap kualitas pendidikan, kemampuan kognitif, dan produktivitas tenaga kerja di masa depan. Hal ini tercermin dari capaian Human Capital Index Indonesia yang masih tertinggal dibanding sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. “Status gizi yang buruk pada anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap produktivitas dan pendapatan. Inilah dasar kuat mengapa MBG menjadi instrumen strategis pembangunan,” jelasnya.
Dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekitar 82% anggaran MBG dialokasikan pada subfungsi pendidikan dan 18% pada subfungsi kesehatan. Desain ini menegaskan posisi MBG sebagai investasi SDM, bukan stimulus fiskal jangka pendek.
Indef menekankan bahwa pembiayaan MBG dilakukan melalui realokasi anggaran, sehingga tidak menambah defisit maupun total belanja negara. Dengan demikian, dampaknya terhadap ekonomi lebih berupa perubahan komposisi belanja pemerintah. “Secara desain, APBN tetap netral. MBG adalah transfer non-tunai kepada anak usia 0–18 tahun yang diharapkan menjadi tenaga kerja masa depan,” kata Rizal.
Dampak Makroekonomi: Kecil tapi Konsisten
Hasil simulasi model OG-IDN menunjukkan bahwa MBG memberikan dampak positif terhadap indikator makroekonomi, meski dengan besaran yang relatif kecil. Produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan meningkat secara moderat dengan puncak kenaikan sekitar 0,15–0,17% pada awal 2040-an, seiring masuknya generasi penerima MBG ke pasar kerja.
Selain itu, stok modal dan investasi juga mengalami peningkatan pada fase awal, meskipun tidak bersifat permanen dan kembali ke keseimbangan jangka panjang. Konsumsi rumah tangga menjadi indikator yang paling persisten, mencerminkan peningkatan kesejahteraan antargenerasi.
“Manfaat utama MBG tercermin pada konsumsi dan kesejahteraan, bukan pada ekspansi output secara permanen,” ujar Rizal.
Menariknya, peningkatan konsumsi terjadi di hampir seluruh kelompok pendapatan, termasuk rumah tangga menengah dan atas. Sementara pada rumah tangga berpendapatan rendah, manfaat MBG lebih banyak terinternalisasi dalam bentuk perbaikan gizi anak, bukan peningkatan konsumsi langsung.
Dari sisi pasar tenaga kerja, kajian Indef menemukan adanya penurunan kecil pada jam kerja, yang mencerminkan income effect akibat peningkatan kesejahteraan, bukan disinsentif kerja struktural. Upah riil juga mengalami penurunan sementara sebelum kembali ke keseimbangan jangka panjang.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Program MBG di Jalur yang Benar untuk Berantas Kemiskinan dan Kelaparan
Sementara itu, dampak fiskal MBG dinilai netral dan berkelanjutan. Rasio utang pemerintah, penerimaan pajak, serta belanja pemerintah terhadap PDB tidak mengalami perubahan struktural dalam jangka panjang. “MBG tidak memperburuk posisi fiskal negara. Rasio utang terhadap PDB dan kapasitas fiskal tetap terjaga karena pembiayaannya berbasis realokasi, bukan utang,” tegas Rizal.
Berdasarkan temuan tersebut, Indef merekomendasikan agar MBG diposisikan sebagai kebijakan struktural jangka panjang, bukan sekadar instrumen pertumbuhan cepat. Pemerintah juga didorong untuk mempersempit dan mempertajam sasaran program guna meningkatkan return fiskal dan sosial.
Selain itu, integrasi MBG dengan kebijakan pendidikan dan pasar kerja dinilai krusial agar peningkatan kualitas SDM dapat diterjemahkan menjadi kenaikan produktivitas, upah, dan output yang lebih permanen. “Tanpa kebijakan lanjutan, manfaat produktivitas dari MBG berisiko tidak terkonversi secara optimal. Evaluasi juga harus berbasis hasil antargenerasi, bukan hanya penyerapan anggaran,” pungkas Rizal.

