Indonia Resmi Berlaku, BI Siapkan Pasar OIS dan BI-FRN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) punya target besar setelah penerapan Indonesia Overnight Index Average atau Indonia pada 1 Januari 2026. Setelah terbentuk Indonia, tenor yang ada menggunakan compounded Indonia.
“Jadi itu rata-rata majemuk dari suku bunga Indonia selama periode tertentu,” kata Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia (BI) Arief Rachman, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga
BI Hentikan JIBOR pada Awal 2026, Dorong Pelaku Pasar Pakai INDONIA
Indonia dibentuk berdasarkan transaksi pasar uang antar-bank (PUAB) overnight di seluruh bank konvensional. Dengan begitu, compounded Indonia bersifat backward-looking atau berdasarkan data historis. Compounded Indonia didasarkan pada periode bunga selama 30 hari, 60 hari, 180 hari, dan 360 hari. Dengan adanya compounded Indonia ini, akan terbentuk data Indonia Index yang berguna bagi pelaku pasar.
Ke depan pada 2028, Arief mengatakan, BI akan memulai menggunakan Overnight Index Swap (OIS). Ini merupakan suku bunga overnight yang sudah mempertukarkan antara suku bunga floating dengan fix.
Proses pertukaran ini mencocokkan penawaran pelaku pasar dilakukan melalui operator yang ditunjuk BI. Dengan proses pencocokkan ini, diharapkan terjadi pembentukan reference rate berbasis Indonia yang bersifat forward looking.
Untuk itu, pada November 2025, BI telah menerbitkan BI Floating Rate Notes atau BI-FRN. Seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), BI-FRN memiliki kupon. “Tapi, ini (BI-FRN) bunganya floating. Kalau SRBI kan diskonto,” ujar dia.
Baca Juga
BI Hentikan Penggunaan JIBOR Diganti dengan INDONIA, Ini Alasannya
Dengan tenor 1 tahun, suku bunga kupon BI-FRN bergerak setiap hari mengikuti Indonia. Kupon BI-FRN ini diharapkan dapat menjadi hedging ketika BI menurunkan suku bunga acuannya ke depan. “Tujuannya, memang untuk mengembangkan pasar OIS karena di Indonesia itu belum ada instrumen pasar keuangan yang bersifat floating,” kata dia.

