BI Sebut Ketidakpastian Perekonomian Global Makin Tinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Solikin M Juhro menyebut ketidakpastian perekonomian global meningkat seiring kondisi politik dan geopolitik global.
Dikatakan Solikin, tekanan global tidak hanya berasal dari perlambatan ekonomi, namun juga meningkatnya ketegangan politik, perang tarif, serta risiko geopolitik seperti konflik Ukraina dan fragmentasi perdagangan internasional.
"Kita menghadapi situasi yang memang sangat-sangat challenging ," ujar Solikin saat taklimat media di kantor pusat BI, Jakarta, Senin (22/12/2025).
Solikin melihat masih tingginya ketidakpastian kebijakan yang ikut memberikan tekanan bagi perekonomian, sama halnya dengan tekanan dari ketidakpastian global. Ditambah lagi tren proteksionisme perdagangan dunia dan fragmentasi ekonomi global ikut memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Pola perdagangan internasional kini semakin bergeser dari multilateralisme ke kerja sama kelompok kecil atau bilateral.
Tak hanya itu, dunia kini juga menghadapi tingginya utang publik di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Ini memperbesar defisit fiskal yang harus dibiayai dengan utang yang pada akhirnya menekan ekspektasi penurunan suku bunga global.
Baca Juga
BI: Transmisi Penurunan Suku Bunga Bank Melambat Sejak BI Rate Dipangkas September 2024
Risiko lain yang menjadi perhatian BI adalah meningkatnya kerentanan pasar keuangan global akibat tingginya leverage lembaga keuangan non-bank atau Non-Bank Financial Institutions/NBFI. Artinya, banyak NBFI yang menggunakan dana pinjaman untuk membiayai aktivitasnya tanpa didukung oleh permodalan yang kuat. Sehingga tersembunyi risiko gagal bayar yang cukup besar jika terjadi guncangan ekonomi. Apalagi, kata Solikin, keberadaan lembaga ini belum diikat lewat regukasi yang ketat.
“Mereka not well regulated. Jadi nggak ada regulasi yang kuat untuk meng-address isu mengenai peran dari NBFI itu dalam melakukan utang, yang me-leverage juga para hedge fund,” kata dia.
Dalam kondisi yang sama, kripto dan stable coin yang berpotensi menciptakan bubble juga sangat memengaruhi kondisi perekonomian global. Dampak inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat pada 2026.
Berdasarkan proyeksi, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 melambat menjadi 3% dari sebelumnya 3,1% pada 2025. Pertumbuhan ekonomi negara maju disebut akan mencapai 1,6% pada 2026. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara berkembang mencapai 3,9%.

