Gubernur BI Akan Pakai Jurus “Sumitronomics” untuk Hadapi Perekonomian 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menegaskan, Bank Sentral akan menggunakan ‘jurus’ Sumitronomics yang bertumpu pada lima sinergi untuk mengarungi perekonomian 2026.
Sumitronomics adalah kerangka pemikiran ekonomi yang dikembangkan Prof Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia yang juga ayah Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto. Konsep ini pertama kali dipopulerkan pada era 1950-1960-an di bawah pemerintahan Soekarno, tetapi belakangan ini mencuat kembali.
Baca Juga
Prospek Ekonomi 2026 Lebih Cerah, Berbagai Risiko Sudah “Price In”
“Sinergi dalam lima area penting untuk menghadapi tantangan ekonomi tahun depan,” kata Perry Warjiyo dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) yang bertema Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan, di kompleks BI, Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Perry mengungkapkan, pertama yaitu sinergi kebijakan ekonomi nasional dengan memperkuat kebangkitan dan kemandirian. Kedua, hilirisasi, industrialisasi, dan ekonomi kerakyatan. Ketiga, meningkatkan pembiayaan dan pasar keuangan.
Adapun sinergi keempat adalah melakukan akselerasi ekonomi keuangan digital nasional. Sedangkan sinergi kelima yaitu kerja sama investasi dan perdagangan internasional.
Perry menegaskan, stabilitas sangat penting bagi negara mana pun agar perekonomiannya tumbuh pesat, inklusif, dan berdaya tahan.
Baca Juga
Ancaman Ekonomi 2026: Daya Beli Turun, Kelas Menengah Menyusut
“Stabilitas yang dinamis, harga-harga terkendali, rupiah stabil, ekonomi bergerak cepat, dan rakyat mendapat manfaat. Itulah Sumitronomics,” tegas dia.
Sinergi fiskal dan moneter, menurut Perry, akan diperkuat dalam menjaga stabilitas. “Stimulus mendorong permintaan. Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) oleh pemerintah, pembelian SBN oleh BI di pasar sekunder, juga pengelolaan DHE SDA (Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam),” papar dia.

