Pertumbuhan Ekonomi RI Masih di Bawah Potensi, BI Dorong Peningkatan PDB Lewat Bauran Kebijakan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus mendorong peningkatan produk domestik bruto (PDB) karena pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih berada di bawah potensialnya.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya menyebut pertumbuhan ekonomi nasional berada pada level yang cukup baik, namun belum mencapai potensi maksimalnya.
“Bank Indonesia melihat bahwa pertumbuhan ekonomi ini masih di bawah potensialnya. Kami memperkirakan pertumbuhan di semester kedua akan lebih baik dibandingkan Semester I-2025, didukung berbagai faktor,” ujar Juli dalam Seminar Economic Outlook: Tahun 2026, Tahun Ekspansi, Rabu (5/11/2025).
Baca Juga
IHSG Ditutup Rekor ATH 8.318, Empat Saham Dipimpin COIN Cetak ARA
Juli menjelaskan, inflasi Indonesia hingga Oktober 2025 masih terjaga pada kisaran target 2-3% dengan deviasi 1%, meskipun terdapat kenaikan inflasi pada kelompok makanan. “Kami meyakini inflasi tahun ini dan tahun depan tetap berada dalam kisaran target 2-3% plus minus,” katanya.
BI terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar valas spot, non-deliverable forward (DNDF), hingga operasi pasar moneter.
Selain itu, BI telah menurunkan BI Rate sebesar 150 basis poin sejak September 2024, serta melakukan ekspansi likuiditas. Posisi Sertifikat Bank Indonesia (SRBI) yang pada awal tahun mencapai Rp 924 triliun telah menurun menjadi Rp 707,05 triliun pada 21 Oktober 2025, menunjukkan injeksi likuiditas sekitar Rp 270 triliun.
Adapun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh BI di pasar sekunder juga telah terakumulasi sekitar Rp 270 triliun.
Baca Juga
Dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi, BI memberikan insentif makroprudensial berupa pengurangan giro wajib minimum (GWM) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Hingga Oktober 2025, akumulasi kredit yang terdorong melalui insentif ini mencapai hampir Rp 400 triliun.
“Dari kombinasi itu, intinya kami tetap mendorong pertumbuhan, namun memastikan stabilitas tetap terjaga,” tegas Juli.
Dengan bauran kebijakan tersebut, BI optimistis dapat menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar Rupiah, sekaligus memperkuat peluang peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.

