Menpraekraf: Dibutuhkan Bauran Kebijakan demi Ciptakan Industri Penerbangan yang Kompetitif
JAKARTA, Investortrust.id - Perlu dihadirkan sebuah kebijakan bauran secara ekosistem yang bisa mendukung industri penerbangan nasional yang kompetitif dan berkelanjutan. Demikian disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno dalam acara The Weekly Brief with Sandi Uno (WBSU) yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin (22/7/2024).
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi (Kemenparekraf) buka suara terkait banyaknya maskapai penerbangan baru yang baru beberapa kali terbang lalu menghentikan penerbangannya di jalur tertentu karena tidak menguntungkan.
Menurut Sandiaga, kebijakan yang disiapkan harus mencakup bagaimana proses untuk mendatangkan pesawat dan membuka rute, serta ketersediaan bahan bakar dengan harga yang layak.
Baca Juga
Pemerintah Bentuk Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat, Begini Respons Pengamat Penerbangan
"Avtur itu sangat tinggi (harganya), dan juga pergerakan kurs, sparepart ini juga sangat tinggi," ungkap Sandi.
"Kita sebagai pemerintah harus melihat beberapa hal yang sangat penting agar bisnis penerbangan kita ini berdaya saing, bukan hanya menguntungkan tapi panjang (berkelanjutan), itu adalah satu kemudahan perizinanan, misalnya izin terbang, izin mendarat, izin mendatangkan pesawat, juga mengenai pajak dan bea-bea masuk itu sangat tinggi pengaruhnya," imbuhnya.
Ia pun mengaku prihatin dengan industri penerbangan nasional yang masuk kategori termahal kedua di dunia setelah Brasil. “Ini kan nggak bisa dibiarkan dan harus segera disolusikan," kata Sandi.
Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenparekraf Nia Niscaya menyampaikan, maskapai penerbangan merupakan sebuah bisnis, ketika tidak menguntungkan maka akan mereka akan menutup penerbangannya.
Baca Juga
Pemerintah Pastikan Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat Libatkan Industri Penerbangan
"Sehingga, kami menyarankan ketika ada pembukaan penerbangan, ini harus kita sambut baik, salah satunya adalah di WBSU sudah mulai mengkomunikasikan dan tentu akan mengamplifikasi rencana penerbangan ini dan ini harus kita berkolaborasi bersama industri dan juga pemda untuk betul-betul menjaga keberlangsungan," jelas Nia.
Menurut Nia, hal ini penting dilakukan karena dalam penerbangan harus dua sisi, tidak hanya mendatangkan wisawatawan mancanegara (wisman) saja, tapi kembalinya kosong.
"Dan kita tentu kebijakan kita akan lebih mendorong untuk mendatangkan wisman. Jadi itu dukungannya, mesti kita sambut dengan semangat berkolaborasi," terang Nia.
Sebagai tambahan informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Januari hingga Mei 2024 mencapai 5,24 juta kunjungan. Di mana, angka ini tumbuh 23,78%.
"Ini keliahatannya positif, bagus, tapi kita lihat sebetulnya sekian ini, 5,2 juta ini berapa persen dari target yang ditetapkan di dalam rencana jangka panjang menengah kita," terang Nia.
Lebih lanjut, Nia menyebut, capaian ini sudah 55,20% dari target batas bawah 2024, yakni 9,5 juta kunjungan atau 36,67% dari target batas atas, yakni 14,3 juta.

