BI Masih Buka Ruang Penurunan BI Rate ke Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo masih membuka ruang penurunan BI Rate ke depan. Dasar pertimbangannya yaitu inflasi yang masih rendah dan terkendali dalam kisaran 2,5% plus minus 1% pada 2025 dan 2026.
“Karenanya, dengan inflasi yang terkendali itu terbuka ruang penurunan suku bunga,” kata Perry, saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober, Selasa (22/10/2025).
Alasan lainnya, kata Perry, yaitu peran pemerintah dalam bersinergi dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. BI melihat pertumbuhan ekonomi saat ini dan tahun depan masih di bawah kapasitas output nasional.
“Dengan demikian, mendorong permintaan domestik untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu masih sejalan tanpa menimbulkan risiko kenaikan inflasi, khususnya inflasi inti,” ucap dia.
Baca Juga
BI Tahan BI Rate di 4,75%, Fokus Jaga Stabilitas Rupiah dan Dorong Pertumbuhan
Perry mengatakan akan terus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk menambah ekspansi fiskal pengeluaran pemerintah untuk mendorong sektor riil. BI dan pemerintah akan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi likuiditas dan kebijakan insentif likuiditas maupun digital.
“Sinergitas kebijakan fiskal dan moneter ini sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas,” kata dia.
Meski demikian, Perry menjelaskan penurunan suku bunga tersebut tinggal menunggu momentum saja. Setelah enam kali menurunkan BI Rate, Perry mengatakan ingin memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter.
“Penurunan suku bunga BI Rate telah diikuti penurunan suku bunga di pasar uang, baik yang di Indonesia maupun suku bunga pasar uang, bahkan imbal hasil SBN juga sudah turun,” kata dia.
Perry menjelaskan masalah yang menjadi perhatian lain yaitu bagaimana suku bunga dana pihak ketiga dan suku bunga kredit yang turun dengan lambat. “Itu yang kami terus untuk dorong, agar suku bunga kredit bisa turun dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.

