The Fed akan 3 Kali Pangkas Bunga, Rupiah Dibuka Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka menguat dalam perdagangan valas di pasar spot Kamis (21/3/2024) pagi. Penguatan ini kompak dengan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di pasar saham dalam negeri yang dibuka menghijau.
Sentimen yang menggerakkan pasar keuangan ini adalah pernyataan The Fed yang akan memangkas suku bunga acuan Amerika Serikat tiga kali tahun ini. Pertemuan FOMC pada Rabu waktu setempat juga mempertahankan Fed Funds Rate, tetap 5,25-5,50%.
Sentimen yang menggerakkan pasar keuangan ini adalah pernyataan The Fed yang akan memangkas suku bunga acuan Amerika Serikat tiga kali tahun ini. Pertemuan FOMC pada Rabu waktu setempat juga mempertahankan Fed Funds Rate, tetap 5,25-5,50%.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat 55 poin ke level Rp 15.668 per USD pada pagi ini, setelah sebelumnya berada di posisi Rp 15.723 per USD pada penutupan perdagangan kemarin. Sementara, kemarin, berdasarkan data terbaru kurs JISDOR yang dirilis Bank Indonesia, rupiah masih melemah. Mata uang Garuda melemah terhadap greenback ke level Rp 15.712 per USD pada Rabu (20/3/2024), tergelincir 40 poin dari penutupan sebelumnya Selasa (19/3/2024).
Pada Rabu (20/3/2024), mendahului FOMC, Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur BI dan memutuskan untuk tetap mempertahankan BI Rate di level 6,0%. Mata uang Garuda kemudian bergerak sideways pada perdagangan kemarin, di tengah sentimen investor yang cenderung menunggu hasil dari rapat FOMC diumumkan Rabu waktu AS atau Kamis waktu Indonesia. Kecenderungan tersebut juga terefleksi dari pergerakan mata uang Asia lainnya, yang sebagian besar bergerak dalam range yang terbatas kecuali dolar Taiwan, peso Filipina, dan yen Jepang.
Potensi Menguat
Pada perdagangan hari ini, ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memprediksi rupiah berpotensi bergerak menguat terbatas. Ini sejalan dengan hasil rapat FOMC.
"Dengan The Fed akan mulai memberikan sinyal lebih jelas terkait dengan besaran dan timing pemotongan suku bunga acuan, maka sentimen risk-on diperkirakan meningkat," kata Josua kepada Investortrust.
Menurut Josua, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dan akan ditutup pada kisaran level Rp 15.650-15.750 per USD.

