Menyedihkan, Persentase Anak Miskin Meningkat
JAKARTA, investortrust.id - Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan dan kemunduran ekonomi. Pandemi global ini turut menyeret anak-anak ke jurang kemiskinan di negeri ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) yang bekerja sama dengan Unicef mencatat, pandemi Covid-19 di Indonesia menyebabkan peningkatan persentase anak miskin yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan kemiskinan secara umum.
“Antara tahun 2019 dan 2020, terjadi peningkatan persentase penduduk miskin di Indonesia sebesar 0,37 poin persen, sedangkan persentase anak miskin meningkat sebesar 0,47 persen. Peningkatan yang serupa juga terjadi pada periode 2020-2021,” tulis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam survei Kesejahteraan Anak Indonesia: Analisis Kemiskinan Anak Moneter 2022, diakses Selasa (26/12/2023).
Pada tahun 2020, persentase penduduk miskin Indonesia mencapai 9,78%. Kondisi ini terjadi karena 40% rumah tangga mengalami penurunan pendapatan hingga 25%.
Catatan BPS lainnya menunjukkan angka yang mengejutkan. Menurut BPS, persentase anak miskin pada kelompok umur balita (0-4 tahun) lebih tinggi dibandingkan dengan kemiskinan secara umum. “Sekitar 13 dari 100 anak, baik pada kelompok umur bayi maupun balita termasuk pada kategori miskin,” tulis BPS.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, persentase anak miskin pada periode 2019-2022 selalu lebih tinggi di daerah perdesaan dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Pada tahun 2022, persentase anak miskin di perdesaan sebesar 14,79% atau sekitar 15 dari 100 anak di daerah pedesaan diklasifikasikan sebagai anak miskin. “Sementara itu, persentase anak miskin di daerah perkotaan sebesar 9,51%,” tulis riset ini.
Jika dilihat berdasarkan sebaran pulau, persentase anak miskin cenderung lebih tinggi di Indonesia bagian timur. BPS memperkirakan kondisi tersebut kemungkinan berhubungan dengan ketimpangan antarprovinsi di Indonesia.
“Pada tahun 2022, persentase kemiskinan anak di Papua lima kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, dan Bali,” tulis BPS.
Dalam empat tahun terakhir, berdasarkan karakteristik ketenagakerjaan, persentase anak miskin di antara anak-anak yang bekerja lebih tinggi. Pada tahun 2022, angka poverty risk sebesar 1,39 menunjukkan pekerja anak memiliki risiko sekitar 1,4 kali untuk menjadi miskin.
Dari sisi lapangan usaha, persentase anak miskin yang tinggal di rumah tangga dengan Kepala Rumah Tangga (KRT) yang bekerja pada lapangan usaha pertanian hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan anak miskin yang tinggal di rumah tangga dengan KRT yang bekerja pada lapangan usaha non-pertanian.
“Anak-anak miskin yang tinggal di rumah tangga dengan KRT yang bekerja pada lapangan usaha pertanian memiliki risiko 1,54 kali untuk menjadi miskin,” tulis penelitian ini.
Meskipun persentase kemiskinannya menurun, secara umum pada tahun 2022 masih ada sekitar 42,14% anak-anak usia 0-17 tahun yang tinggal di rumah tidak layak huni. Persentase anak miskin yang tinggal di rumah tangga tanpa akses terhadap sumber air minum layak, jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak di rumah tangga yang memiliki akses.
Demikian juga, pada anak-anak miskin yang tinggal di rumah tangga tanpa akses terhadap sanitasi layak. Pada tahun 2022, persentase anak miskin yang tinggal di rumah tangga tanpa akses sumber air minum layak mencapai 18,22%, sementara pada anak yang tinggal di rumah tangga tanpa akses ke sanitasi layak mencapai 20,79%.
BPS dan Unicef menyarankan perlunya menurunkan kemiskinan pada anak dan remaja untuk menjadi prioritas ke depannya. “Kemiskinan pada usia dini akan membentuk fondasi yang memerangkap anak dalam kondisi miskin, sementara kemiskinan remaja dapat memperparah keadaan tersebut yang ketika berlanjut dapat menjadi dasar pewarisan kemiskinan ke generasi selanjutnya,” tulis riset ini.
Baca Juga
Sri Mulyani: Angka Kemiskinan Global Melonjak 100 Juta Orang per Tahun akibat Perubahan Iklim

