Singgung Sistem Pasar Bebas, Menkop Ferry Ingin Bawa Koperasi Jadi Mesin Ekonomi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono, menyinggung sistem ekonomi nasional yang dalam beberapa dekade terakhir sangat beegantung pada mekanisme pasar bebas. Ia berujar sistem ini kerap menguntungkan kelompok besar dan melemahkan yang kecil.
Menurutnya pembentukan 80.000 unit Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih dapat menjadi jalan pintas agar pilar ekonomi tidak lagi didominasi oleh swasta atau BUMN melainkan koperasi. Lebih jauh, ia mendorong agar koperasi menjadi sumber utama pembangunan ekonomi nasional.
"Kalau mekanisme pasar tidak diatur negara, akibatnya pelaku pasar yang besar menguasai sektor-sektor penting rakyat sehingga masyarakat kecil akan semakin terpinggirkan dan tersingkir,” katanya saat menyampaikan keynote speech pada acara Wisuda ke-9 Universitas Ary Ginanjar (UAG) di Menara 165, Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Pemerintah menyadari hingga saat ini masih terjadi ketimpangan ekonomi di tengah masyarakat terutama di tingkat desa. Maka dari itu program Kopdes Merah Putih dirancang untuk menjawab berbagai masalah klasik di pedesaan, mulai dari jeratan rentenir, pinjaman online, hingga keterbatasan akses barang pokok dan layanan kesehatan.
“Banyak masyarakat desa yang masih kesulitan. Melalui Kopdes, kami ingin mengembalikan peran koperasi untuk melindungi, melayani, sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Pemerintah melalui Kementerian Koperasi (Kemenkop) mempercepat operasionalisasi 80.000 Kopdes Merah Putih untuk mengembalikan "khittah" koperasi sebagai Soko Guru Perekonomian Nasional. Strategi percepatan ini salah satunya dengan melibatkan akademisi untuk pelaksanaan pelatihan SDM pengelola koperasi hingga pemetaan potensi desa/ kelurahan serta pelaksanaan riset berbasis masyarakat.
Baca Juga
Menkop Ferry Juliantono Sebut Kopdes Merah Putih Bisa Jadi Pangkalan Gas LPG 3 Kg
Dalam tahap operasionalisasi Kopdes ini, Kemenkop mengharapkan partisipasi anak muda, khususnya lulusan perguruan tinggi, untuk menjadi manajer dan pengelola koperasi desa. Menurutnya, di tangan generasi muda terdidik proses operasionalisasi Kopdes/ Kel Merah Putih diyakini akan lebih mudah dan terarah.
“Dengan beroperasinya Kopdes ini nanti tentu akan butuh manajer terutama dari anak muda yang bisa jadi lulusan dari UAG ini. Di situlah pengabdian kaum terpelajar diuji,” lanjutnya.
Hingga saat ini, lanjut dia, Kemenkop sudah menjalin kerja sama dengan forum rektor dan berbagai universitas di tingkat provinsi untuk membantu penguatan kelembagaan dan SDM dari Kopdes/ Kel Merah Putih. Program-program pelatihan pengembangan SDM Kopdes juga telah dijalankan dengan melibatkan berbagai pihak dimana perguruan tinggi/ universitas dilibatkan sebagai salah satu pengampu.
“Pendekatan koperasi sekarang harus berbasis pendidikan, karena SDM di koperasi desa ini nanti idealnya dikelola oleh anak-anak muda yang sudah siap dengan berbagai inovasinya,” tambahnya.
Pada fase pengoperasioannya, Kemenkop bersama Satgas Nasional Percepatan Pembentukan Kopdes/ Kel Merah Putih saat ini sedang berfokus pada upaya mendorong setiap unit Kopdes untuk dapat menyusun proposal bisnisnya secara matang untuk dapat dikerjasamakan dengan Bank Himbara ataupun dengan pihak-pihak lainnya. Khusus untuk kebutuhan pendanaan awal operasionalisasi Kopdes, pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyiapkan anggaran hingga Rp 16 triliun yang berasal dari SAL (Saldo Anggaran Lebih) yang diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 63 Tahun 2025 tentang Penggunaan SAL.
Melalui sinergi dari berbagai pihak serta perencanaan operasionalisasi Kopdes/ Kel Merah Putih secara tepat, Menkop Ferry optimistis Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi yang inklusif diman salah satunya didorong oleh peran koperasi.
“Mudah-mudahan Kopdes ini bisa mengembalikan kejayaan Indonesia sesuai cita-cita, sehingga tahun 2045 kita bisa mencapai Visi Indonesia Emas,” ujarnya.

