Indeks Keyakinan Konsumen Agustus 2025 Turun Tipis ke Level 117,2
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2025 masih berada di level optimis meskipun mengalami penurunan tipis. Pada periode ini, IKK tercatat sebesar 117,2, turun dari 118,1 pada Juli 2025.
“Terjaganya keyakinan konsumen pada Agustus 2025 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tetap berada di level optimis,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya, Rabu (10/9/2025).
IKE pada Agustus tercatat 105,1, lebih rendah dibanding Juli yang sebesar 106,6. Sementara itu, IEK berada di level 129,2, sedikit turun 0,4 poin dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 129,6.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan terjadi pada kelompok Rp1–2 juta (turun 6 poin menjadi 102,9), Rp2,1–3 juta (turun 4,5 poin menjadi 108,1), dan Rp4,1–5 juta (turun 2,7 poin menjadi 117,2). Sebaliknya, optimisme meningkat pada kelompok Rp3,1–4 juta (naik 0,8 poin menjadi 116,9) dan kelompok di atas Rp5 juta (naik 1,4 poin menjadi 120,9).
Baca Juga
Terjaganya IKE bersumber dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) sebesar 116,9 dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) sebesar 105,1 yang masih berada di zona optimis. Namun, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) tercatat di level pesimis, yakni 93,2.
Jika dilihat berdasarkan pendidikan, responden dengan tingkat sarjana dan pascasarjana berada pada zona optimis dengan indeks 103,7 dan 111,7. Sementara itu, responden lulusan SMA (88,2) serta akademi/diploma (97,5) masih berada di zona pesimis.
Secara spasial, sebagian besar kota mencatat penurunan IKE, terutama Semarang, Medan, dan Mataram. Namun, beberapa kota mengalami peningkatan, terutama Bandar Lampung, Bandung, dan Pangkal Pinang.
BI juga mencatat pola penggunaan pendapatan rumah tangga. Proporsi konsumsi terhadap pendapatan menurun di sejumlah kelompok, seperti Rp1–2 juta (76,5%) dan Rp3,1–4 juta (73,9). Sementara itu, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan meningkat, terutama pada kelompok Rp1–2 juta (9,6%) dan Rp3,1–4 juta (12,1%).

