Menuju Indonesia Emas 2045, Wamen Investasi Ingatkan Generasi Muda Jadi Ujung Tombak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Persaingan ekonomi global semakin ketat dan generasi muda Indonesia harus siap menghadapi tantangan itu. Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu saat memberikan kuliah umum dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Trisakti di Jakarta.
"Vietnam sudah melampaui angka pertumbuhan ekonomi 7%. Vietnam jumlah penduduknya hanya 100 juta, sementara negara kita memiliki 280 juta jiwa. Artinya, lebih dari dua kali lipat populasi Vietnam. Secara wilayah, kita jauh lebih besar. Potensi alam kita juga jauh lebih luar biasa, lebih banyak dan beraneka ragam," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (27/8/2025).
Baca Juga
BI Yakin Investasi Dongkrak Ekonomi RI Semester II-2025, Ini Alasannya
Todotua menekankan generasi muda perlu membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman agar dapat menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045. Ia menjelaskan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% hingga 2029.
Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi syarat penting agar Indonesia bisa keluar dari middle income trap, atau jebakan negara berpendapatan menengah. "Tiga motor untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% adalah konsumsi, investasi, dan ekspor. Ini akan terus kita dorong," tegasnya.
Hilirisasi jadi kunci
Dalam kesempatan itu, Todotua menyoroti pentingnya hilirisasi, yakni pengolahan sumber daya alam (SDA) di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah. Selama ini Indonesia masih mengandalkan ekspor bahan mentah dan mengimpor kembali produk jadi dengan harga lebih tinggi.
“Melalui hilirisasi, seluruh proses pengolahan harus dilakukan di dalam negeri agar memberikan dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi,” jelas Todotua yang juga alumni Trisakti angkatan 1998.
Indonesia, katanya, memiliki cadangan sumber daya alam strategis, mulai nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, ikan tuna sebagai komoditas unggulan perikanan, hingga kelapa yang menyumbang 20–30% kebutuhan dunia.
“Pengelolaan sumber daya alam ini harus ditopang investasi, teknologi, dan sumber daya manusia unggul. Kita bisa belajar dari Tiongkok bagaimana mereka membangun ekosistem melalui investasi dan teknologi,” pungkasnya.
Baca Juga
RI Siapkan Skema Insentif Baru untuk Jaga Investasi di Era Pajak Global 15%
Data Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2025 mencapai Rp 280,8 triliun (sekitar US$ 17,1 miliar). Angka ini menyumbang 29,8% dari total realisasi investasi periode yang sama.
Sektor mineral menjadi kontributor terbesar dengan Rp 193,8 triliun, disusul perkebunan dan kehutanan Rp 67,4 triliun, migas Rp 17,3 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp 2,3 triliun.

