Menko Airlangga Sebut AS Jadi Pasar yang Perlu Dipertahankan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pasar Amerika Serikat (AS) masih memberikan dukungan kuat bagi neraca perdagangan Indonesia. Dalam sebulan terakhir, nilai ekspor nonmigas Indonesia masih tercatat sebesar US$ 2,68 miliar, dan surplus sebesar US$ 1,64 miliar
“Impornya US$ 1 miliar. Sehingga kita masih surplus US$ 1,64 miliar. Kalau setengah tahun mungkin kita punya surplus hampir US$ 9 miliar dengan AS,” kata Airlangga saat paparan kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Melihat kondisi ini, Airlangga menyebut AS masih menjadi pasar yang potensial bagi Indonesia. Untuk itu, hubungan perdagangan dengan negeri Paman Sam ini masih perlu dipertahankan karena nilai perdagangan yang dihasilkan cukup besar.
“Sesudah itu India, Belanda, Malaysia, dan Thailand,” ujar dia.
Baca Juga
RI Raup Surplus Dagang US$ 9,92 Miliar dari AS, Mendag: Belum Kena Tarif Resiprokal
Berdasarkan data yang dipaparkan, India menyumbang surplus pada perdagangan nonmigas Juni 2025 sebesar US$ 1,32 miliar. Sementara itu, surplus perdagangan dengan Belanda sebesar US$ 0,43 miliar. Dengan Malaysia, Indonesia mampu mencatatkan surplus US$ 0,23 miliar. Sementara dengan Thailand sebesar US$ 0,11 miliar.
Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan surplus pada neraca perdagangan Juni 2025. Surplus pada bulan Juni mencapai US$ 19,48 miliar.
“Dengan capaian ini neraca perdagangan Indonesia selama 62 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, di kantor pusat BPS, Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Meski mengalami surplus, angka surplus pada Juni 2025 mengalami penurunan. BPS menunjukkan penurunan surplus Juni 2025 mencapai -4,65% dibandingkan Mei 2025 yang mencapai US$ 4,3 miliar.
Pudji mengatakan surplus pada Juni 2025 terjadi karena surplus komoditas non-migas sebesar US$ 5,22 miliar. Komoditas utama penyumbang utama surplus yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
“Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$ -1,11 miliar dengan komoditas penyumbang defisit yaitu minyak mentah dan hasil minyak,” ujar dia.

