Rupiah Naik Tajam jelang Pengumuman PDB RI Kuartal II 2025, Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat terhadap dollar AS, Senin (4/8/2025) sore ini atau jelang pengumumn produk domestik bruto (PDB) Indoneia kuartal I-2025. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah menguat tajam 106 poin (0,64%) ke level Rp 16.388 per dolar AS.
Pada perdagangan spot, dilansir Bloomberg kurs rupiah menguat 112 poin (0,68%) ke level Rp 16.401 per dolar AS. Menurut Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil antara Rp 16.350-16.450. Meski proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal II 2025 cenderung melambat atau tidak sampai di angka 5%.
Baca Juga
OJK: 74% Emiten Cetak Laba di Semester I-2025, Rata-Rata Kenaikan Segini
"PDB kuartal 2 diperkirakan lebih lemah, dipicu belanja pemerintah yang baru menguat di Juni. Naiknya impor akibat front loading jelang pengumuman tarif dan melemahnya sektor konsumsi," kata David kepada Investortrust, Senin (4/8/2025).
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkap, pasar mulai memperhitungkan kembali penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, menyusul data ketenagakerjaan bulan Juli yang suram. Meskipun Tingkat Pengangguran hampir tidak berubah, pelemahan di pasar tenaga kerja membenarkan sikap Gubernur Fed Michelle Bowman dan Christopher Waller yang mendukung penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan The Fed 29-30 Juli lalu.
Laporan nonfarm payrolls (NFP) bulan Juli menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 73.000 lapangan kerja, jauh di bawah ekspektasi 110.000. Selain itu, angka bulan sebelumnya direvisi secara signifikan lebih rendah menjadi hanya 14.000 dari 147.000 yang dilaporkan sebelumnya, menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja yang lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 0,97% Terseret Kejatuhan Saham Big Cap Dipimpin AMMN
Tingkat Pengangguran pada bulan Juli naik tipis menjadi 4,2% dari 4,1% pada bulan Juni, sejalan dengan ekspektasi pasar. "Presiden Trump terus menerapkan tarif impor yang besar-besaran dari negara-negara termasuk Kanada, Brasil, India, dan Taiwan. Tarif ini telah meningkatkan kekhawatiran inflasi dan berpotensi mengganggu arus perdagangan global," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (4/8/2025).
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan pada hari Minggu bahwa tarif yang diberlakukan minggu lalu pada sejumlah negara kemungkinan akan tetap berlaku alih-alih dipotong sebagai bagian dari negosiasi yang berkelanjutan.
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengirimkan dua kapal selam nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang sesuai sebagai tanggapan terhadap Wakil Ketua Rusia Medvedev, yang mengatakan bahwa Trump sedang bermain ultimatum dengan Rusia, menambahkan bahwa ini adalah "langkah menuju perang". Komentar Medvedev terkait dengan pengurangan tenggat waktu bagi Rusia untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina oleh Washington.

