Pefindo: Waspadai Risiko Fiskal AS di Semester II-2025
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Lembaga pemeringkat surat utang domestik, PT Pemeringkat Efek Indonesiamenggarisbawahi pentingnya kewaspadaan terhadap dua area risiko utama yang diperkirakan akan memengaruhi stabilitas ekonomi dan pasar surat utang di paruh kedua tahun 2025.
Dalam paparan "Tinjauan Makroekonomi dan Pasar Surat Utang" pada Media Forum yang diselenggarakan secara daring pada Selasa (8/7/2025), Suhindarto, Kepala Divisi Riset Ekonomi/Ekonom Pefindo, memaparkan pentingnya pemerintah mewaspadai risiko dari kebijakan fiskal Amerika Serikat dan berbagai risiko di level global.
Suhindarto menekankan bahwa kebijakan fiskal Amerika Serikat kini menjadi sorotan utama. Defisit fiskal AS diekspektasikan akan mengalami pelebaran setelah pengesahan "One Big Beautiful Bill Act".
“Konsekuensinya Pemerintahan AS, khususnya di bawah kepemimpinan seperti Trump, akan membutuhkan penarikan dana yang besar di pasar surat utang untuk menutup defisit fiskal," kata Suhindarto. .
Implikasi dari pelebaran defisit ini telah tecermin dari langkah-langkah yang diambil oleh lembaga pemeringkat internasional. "S&P Global Ratings telah menurunkan peringkat AS dari AAA menjadi AA+ dengan outlook stabil sejak tahun 2011". Kemudian, "Fitch Ratings menyusul dengan penurunan dari AAA ke AA+ dengan outlook stabil pada tahun 2023".
Baca Juga
Yang terbaru, Suhindarto menyampaikan bahwa "Moody’s memangkas peringkat sovereign AS dari Aaa menjadi Aa1 dengan outlook stabil pada tahun 2025", mengikuti jejak S&P Global yang sudah melakukannya sejak lama. Penurunan peringkat ini secara jelas mengindikasikan adanya kekhawatiran serius terhadap kapasitas fiskal dan beban utang Amerika Serikat.
Selain itu, beban bunga yang harus ditanggung AS juga telah melonjak. Suhindarto menyebutkan bahwa beban bunga AS telah melonjak sejak era suku bunga tinggi pascapandemi, yang terindikasi dari persentase pengeluaran bunga terhadap pendapatan pemerintah yang meningkat signifikan. Situasi ini semakin mempersempit ruang fiskal AS dan menambah kerentanan terhadap keberlanjutan utang negara.
Selain memantau kebijakan fiskal AS, Pefindo dengan mengolah data dari S&P Global Ratings, mengidentifikasi "5 Risiko Teratas yang Perlu Dipantau dan Diantisipasi pada Semester Kedua 2025". Suhindarto menyampaikan bahwa ketidakpastian global melonjak di tengah berbagai tantangan, terutama dari konflik geopolitik dan Perang Dagang, di mana risiko geopolitik meninggi seiring tereskalasinya konflik di Timur Tengah setelah Israel menyerang Iran.
Adapun lima risiko global tersebut adalah eskalasi tarif dan Kebijakan Proteksionis (Tariff Escalation and Protectionist Policies). Ketidakpastian perdagangan dunia meningkat setelah kebijakan tarif diberlakukan. Risiko ini berada pada level "Elevated" dengan tren "Worsening".
Kedua, Suhindarto menyebut akan terjadi peningkatan volatilitas akibat suku bunga tinggi . Meskipun terdapat ruang bagi bank sentral untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter, "Divergensi pelonggaran moneter akan mewarnai pergerakan di pasar keuangan selama beberapa waktu mendatang," ujarnya. Perbedaan stance moneter ini, menurut Suhindarto, akan menjadi latar belakang yang mewarnai kinerja pasar surat utang global. Meskipun pelonggaran moneter memberi dorongan bagi penurunan yield jangka pendek, kecuali di Jepang yang diperkirakan masih akan melanjutkan kebijakan moneter restriktif karena tekanan inflasi berlanjut, "yield jangka panjang lebih kaku untuk turun di tengah ketidakpastian akibat perang dagang, karena investor menuntut premi yang lebih tinggi,”ujarnya. Risiko ini disebut Suhindarto dikategorikan "High" dengan tren "Unchanged".
Risiko berikutnya yang ia sebut adalah ketegangan geopolitik yang bisa mengancam rantai pasokan dan sentimen pasar. Suhindarto menyoroti bahwa risiko geopolitik telah meningkat seiring eskalasi konflik. Ketidakpastian kebijakan ekonomi dan geopolitik ini menjadi sumber risiko di tengah transisi moneter. Risiko ini berada pada level "High" dengan tren "Worsening".
Keempat, ia menyebut perlambatan ekonomi global dan tekanan kredit yang lebih besar. Suhindarto menjelaskan bahwa ketidakpastian prospek ekonomi global, diiringi dengan yield tinggi yang bertahan lama, akan membuat investor cenderung "mengejar keuntungan di negara maju dan masih selektif ke negara berkembang (lebih banyak didorong oleh spekulasi)". Risiko ini dinilai "Elevated" dengan tren "Worsening".
Kelima, pasar properti menghadapi beberapa tantangan yang risikonya berada pada level "Moderate" dengan tren "Unchanged".
Secara keseluruhan, berbagai ketidakpastian yang muncul dari kebijakan fiskal AS yang ekspansif serta dinamika geopolitik dan ekonomi global memerlukan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Dinamika ini diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan pasar keuangan dan keputusan investasi sepanjang semester kedua tahun 2025.

