MOVE-ID Bantu Pekerja Migran Terampil Kembangkan Karier di Jerman
Oleh Makhdonal Anwar,
Manajer Implementasi Program Pusat Migrasi dan Pembangunan GIZ
INVESTORTRUST - Kebutuhan tenaga kerja profesional khususnya di Jerman dan negara-negara di Eropa meningkat, di berbagai sektor strategis. Ini seperti sektor kesehatan, teknik, kerajinan, konstruksi, dan manufaktur.
Kajian dari Bertelsmann Foundation tahun 2024 memproyeksikan Jerman membutuhkan sekitar 288.000 pekerja asing terampil per tahun, hingga 2040. Sementara, Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang potensial dan terampil, yang berada di kelompok usia produktif.
Hal ini melatarbelakangi dibentuknya MOVE-ID atau Pusat Informasi Terpadu untuk Migrasi, Vokasi, dan Pembangunan Indonesia, guna memastikan kemitraan setara dan saling menguntungkan bagi Indonesia sebagai negara asal, Jerman dan negara lainnya sebagai negara tujuan, serta para pekerja migran sendiri. Melalui layanan konsultasi dan informasi komprehensif, MOVE-ID ingin menurunkan jumlah pekerja migran nonreguler, yang juga berarti membantu meningkatkan perlindungan bagi pekerja migran.
Baca Juga
Puji Keberhasilan QRIS, Dubes Jerman Dorong Kolaborasi Teknologi dan 'Startup' Indonesia–Jerman
Dorong Migrasi Profesional dan Terencana
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH -- atas nama Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) -- bekerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI/BP2MI) tercatat telah meluncurkan MOVE-ID di Bandung dan Mataram. Tujuannya, antara lain, untuk meningkatkan tata kelola migrasi tenaga kerja Indonesia dan memaksimalkan manfaat migrasi bagi pembangunan berkelanjutan.
Peluncuran MOVE-ID dilakukan serentak di kedua kota itu pada 19 Juni 2025. Pusat Informasi Terpadu yang dikelola bersama oleh GIZ dan KP2MI ini menyediakan akses terhadap informasi yang tepat dan akurat, serta layanan konsultasi dan pendampingan profesional bagi warga negara Indonesia yang berminat bekerja di luar negeri. Ini khususnya di Jerman serta negara lainnya di kawasan Eropa, Asia, dan Asia Tenggara.
MOVE-ID juga mendukung para pekerja migran yang kembali ke Tanah Air. Ini misalnya dengan menyediakan akses ke peluang kerja, pelatihan kewirausahaan, dan layanan publik yang relevan untuk membantu mereka dalam proses reintegrasi.
Pusat informasi terpadu ini berlokasi di Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat di Bandung dan BP3MI Nusa Tenggara Barat (NTB) di Mataram, namun layanannya menjangkau seluruh daerah pusat pekerja migran di Indonesia. MOVE-ID di Bandung difokuskan untuk melayani wilayah Indonesia bagian barat, sementara MOVE-ID di Mataram melayani wilayah Indonesia bagian timur.
MOVE-ID ini merupakan bagian dari program global Pusat Migrasi dan Pembangunan (ZME) yang diimplementasikan oleh GIZ atas nama BMZ, bekerja sama dengan KP2MI/BP2MI. Layanan MOVE-ID meliputi konsultasi mengenai prosedur dan persyaratan migrasi reguler ke Jerman, Uni Eropa, dan negara lain di kawasan Asia dan Asia Tenggara. Selain itu, dukungan perencanaan migrasi dan perencanaan karier sesuai dengan keahlian dan pendidikan calon pekerja migran, hingga rujukan ke lembaga terkait sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja migran, seperti kursus bahasa, pelatihan kerja, pengakuan kualifikasi profesi, serta pengurusan visa kerja.
GIZ mendukung migrasi tenaga kerja yang aman, tertib, dan berbasis keterampilan, guna memastikan kemitraan yang setara dan saling menguntungkan bagi negara asal, negara tujuan, dan pekerja migran. Kami berupaya agar MOVE-ID dapat membantu pekerja migran mulai dari saat hendak berangkat ke luar negeri hingga kembali ke Tanah Air.
MOVE-ID ini dibangun untuk menjadi jembatan yang mempertemukan tenaga kerja Indonesia yang terampil dengan pasar tenaga kerja global, sekaligus membantu para pekerja migran RI menjalani proses migrasi sesuai dengan jalur yang aman, adil, dan dikelola dengan baik. Kehadiran MOVE-ID memungkinkan masyarakat yang berminat bekerja di luar negeri dapat secara tepat dan sadar mengambil keputusan mengenai migrasi, berdasarkan informasi yang memadai.
Direktur Jenderal Penempatan KP2MI Ahnas menyampaikan, MOVE-ID berfungsi sebagai wujud kehadiran negara dalam tata kelola migrasi kerja yang aman, sekaligus menjadi pilot project yang nantinya dapat dikembangkan di berbagai daerah. Pelindungan pekerja migran ini harus menjadi prioritas, termasuk memastikan kesesuaian dan kelengkapan dokumen, serta kepatuhan mereka terhadap mekanisme resmi sebelum diberangkatkan. Jika teredukasi dengan baik, maka pekerja migran dapat bekerja dengan aman dan memahami gambaran kerja di luar negeri.
Inspirasi Pekerja Migran Terampil
Sementara itu, berdasarkan Laporan International Labour Organization (ILO) pada Desember 2024, terdapat sekitar 167,7 juta pekerja migran internasional pada 2022. Jumlah ini setara dengan 4,7% dari total angkatan kerja di seluruh dunia.
Sayangnya, sebagian pekerja migran berangkat tanpa mengikuti prosedur penempatan yang benar dan legal (nonreguler). Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, hanya 65,6% Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang masuk ke negara tujuan secara reguler menggunakan visa kerja. Sisanya, sebanyak 21,7% bekerja menggunakan selain visa kerja, dan 9,3% bekerja nonreguler.
Besarnya arus pekerja migran ini didorong oleh sejumlah faktor. Misalnya, aspirasi untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan mengembangkan potensi diri.
Hal ini juga diungkapkan Rukke Endari, calon pekerja migran yang sedang mempersiapkan diri untuk penempatan kerja di sektor kesehatan sebagai perawat di Jerman, melalui skema G to G Triple Win. “Dengan bekerja sebagai perawat di Jerman, saya berharap bisa memperbaiki ekonomi keluarga,” paparnya.
G to G Triple Win adalah program kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jerman, yang bertujuan mendorong penempatan tenaga kerja perawat RI ke Jerman secara resmi dan terstruktur. Rukke tergabung dalam satu angkatan calon perawat yang terdiri dari sekitar 129 orang.
Baca Juga
Bahlil Ingatkan Jangan Sampai Indonesia Jadi Negara 'Kutukan Sumber Daya Alam’, Apa Maksudnya?
Untuk bekerja sebagai perawat di Jerman, Rukke harus memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Keperawatan dan sertifikat Bahasa Jerman minimal level B1 atau tingkat menengah, sebagai bukti ia mampu berbahasa Jerman secara mandiri dalam situasi sehari-hari. Selain itu, ia harus mengikuti Fachkurs, kursus keahlian di bidang keperawatan yang diselenggarakan dalam bahasa Jerman.
Fachkurs bertujuan membekali calon tenaga kerja perawat dengan pengetahuan dan keterampilan keperawatan sesuai standar Jerman. Rukke berharap bekerja di luar negeri akan memperluas wawasan dan relasinya dengan banyak orang dari berbagai negara. Ia pun berharap, dengan mengikuti sistem migrasi profesional yang legal yang didukung KP2MI dan GIZ, keamanan dan kenyamanannya sebagai pekerja migran terjamin.
Eks-PMI Punya 6 Cabang Restoran
Berbeda dengan Rukke yang baru bersiap ke luar negeri, Asmuni adalah purnapekerja migran asal Lombok yang pernah bekerja di Korea Selatan pada tahun 2005-2008. Kembali ke Indonesia, Asmuni membuka usaha kuliner “Bebek Merseng” di Lombok, yang ia rintis sejak awal 2008. Sekarang, ia sudah memiliki enam cabang restoran dan bisa mempekerjakan teman-teman sesama purnapekerja migran.
Motivasi utama Asmuni bekerja di luar negeri adalah mengangkat martabat keluarga. “Saya ini anak kampung dari keluarga sederhana. Saya ingin memartabatkan keluarga, memberi hadiah terbaik bagi orang tua dan ingin menghajikan mereka,” ungkapnya.
Di Korea, Asmuni bekerja di bidang injeksi plastik di sektor manufaktur. Meski butuh persiapan dan waktu lebih lama, ia memilih mendaftar melalui jalur resmi, guna menghindari risiko tinggi bekerja di luar negeri lewat jalur nonreguler.
Sebelum berangkat, ia mendapatkan pelatihan keterampilan otomotif dari Balai Latihan Kerja Pariwisata di Denpasar, dan mempersiapkan diri dengan belajar bahasa Korea. Saat kembali ke Indonesia, Asmuni mendapatkan pelatihan bimbingan teknis untuk merintis usaha dari KP2MI.
“Pelatihan tersebut sangat membantu saya dalam menyesuaikan diri ketika kembali ke Tanah Air. Saya mendapat pelajaran tentang pengelolaan keuangan dan manajemen. Ini berdampak positif terhadap cara pandang dan sikap mental saya, khususnya dalam melihat peluang dan membangun usaha,” kata Asmuni.
Ia juga menyampaikan harapan, MOVE-ID dapat maksimal memfasilitasi teman-teman Indonesia yang akan berangkat ke luar negeri melalui jalur resmi. Ia berharap pula MOVE-ID menjadi wadah bagi teman-teman yang telah kembali ke Indonesia, karena banyak purnapekerja migran kesulitan beradaptasi dan membutuhkan bimbingan untuk melihat peluang atau memulai usaha dengan semangat dan pengelolaan bisnis yang baik. ***

