Hingga Akhir Mei, APBN 2025 Hanya Defisit Rp 21 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut posisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mengalami defisit sebesar Rp 21 triliun atau setara 0,09% dari Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir Mei 2025. Total defisit yang ditetapkan pada APBN 2025 sebesar Rp 616,2 triliun.
“Defisit kita, Rp 21 triliun masih jauh di bawah keseluruhan defisit sesuai Undang-Undang 62/2024 yaitu sebesar Rp 616,2 triliun,” ujar Sri Mulyani, di kantornya, Jakarta, Selasa (17/6/2025).
Sri Mulyani memaparkan pendapatan negara hingga Mei 2025 tercatat sebesar Rp 995,3 triliun atau 33,1% dari target APBN. Dia menyoroti kenaikan pendapatan negara yang menembus Rp 100 triliun dalam sebulan terakhir. “Naiknya hampir Rp 185 triliun sendiri (jika dibanding April 2025)” kata dia.
Kenaikan penerimaan ini muncul ditopang oleh naiknya penerimaan perpajakan sebesar Rp 806,2 triliun atau naik 22,7% secara bulanan.
Baca Juga
Dana Rp 446 Triliun APBN Mengalir Deras untuk 11 Program Prioritas Prabowo
Kenaikan yang sama juga terlihat dari realisasi belanja negara. Hingga Mei 2025, belanja negara tercatat sebesar Rp 1.016,3 triliun atau naik sebesar 28,1% jika dibandingkan April 2025 yang sebesar Rp 806,2 triliun.
“Belanja negara sebagian dipengaruhi oleh situasi global misalnya harga minyak dan kurs,” kata dia.
Belanja pemerintah pusat tercatat mencapai Rp 694,2 triliun. Sementara itu, kenaikan signifikan terlihat pada transfer ke daerah (TKD) yang bergerak dari angka Rp 259,4 triliun pada April 2025 menjadi Rp 322 triliun atau naik 24,13%.
“Jadi kalau lihat, komposisi yang paling banyak adalah TKD dari persentase total anggaran,” kata dia.
Keseimbangan primer pada Mei 2025 mengalami surplus sebesar Rp 192,1 triliun. Di sisi lain, pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp 324,8 triliun atau 52,7% dari target.
Baca Juga
RAPBN 2026 Dibedah! DPR Siap “Memelototi” Demi Efisiensi dan Kesejahteraan Rakyat

