Penerimaan Negara Anjlok, APBN Catat Defisit Rp 21,8 Triliun Mei
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan realisasi APBN defisit Rp 21,8 triliun, atau 0,1% dari produk domestik bruto (PDB), hingga 31 Mei 2024. Defisit ini dikarenakan realisasi penerimaan negara terkontraksi.
“Penerimaan negara sebesar Rp 1.123,5 triliun atau mencapai 40,1% dari target APBN 2024. Tapi, dibandingkan persentase Mei tahun lalu, terjadi penurunan 7,1% secara tahunan,” kata Sri Mulyani dalam acara "APBN Kita Edisi Juni 2024", Jakarta, Kamis (27/6/2024).
Baca Juga
Indeks Dolar Menguat, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.414/USD Hari Ini
Harga Komoditas Turun
Sri Mulyani menjelaskan, penurunan penerimaan negara ini karena turunnya harga komoditas unggulan Indonesia di pasar internasional. Dia menyebut kondisi kenaikan harga komoditas pada 2022 dan 2023 yang cukup tinggi tidak terjadi lagi pada tahun ini. “Ini sesuatu yang terus kami monitor dan waspadai,” kata dia.
Sri Mulyani mengatakan friksi perdagangan antarnegara di pasar global turut memengaruhi kondisi pendapatan negara RI. Utamanya, kata dia, masih terjadi eskalasi konflik atau perang di Ukraina dan Timur Tengah.
“Ada pula persaingan antara Amerika Serikat dengan Cina karena berbagai hal, termasuk pemilu di masing-masing negara. Selain itu, kebijakan industrial dari berbagai negara,” ujar dia.
Baca Juga
Harga Emas Antam Melorot Rp 11.000, Dibandrol Rp 1.350.000 per Gram
Untuk realisasi belanja negara, lanjut Menkeu, mencapai Rp 1.145,3 triliun. Angka ini 34,4% dari total pagu APBN 2024.
“Belanja ini 14% lebih tinggi dari tahun lalu,” ujar dia.
Sementara itu, APBN hingga Mei 2024 mencatat keseimbangan primer positif sebesar Rp 184,2 triliun.

