Dutch Disease Ganjal Industrialisasi di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti menyebut Indonesia terjangkit Dutch Disease. Kondisi ini dialami Indonesia pada era 2000-an ketika ledakan harga komoditas secara global. Kondisi itu membuat Indonesia terlena dan mengabaikan pengembangan manufaktur dan industrialisasi.
"Setelah zaman commodity boom kita terlena dengan Dutch Disease kemudian terjadilah deindustrialisasi dini," kata Amalia saat peluncuran Laporan Perekonomian Bank Indonesia, dikutip Kamis (01/02/2024).
Istilah Dutch Disease dikeluarkan The Economist pada 1977. Istilah ini untuk menggambarkan pelemahan sektor manufaktur di Belanda setelah ditemukannya cadangan gas di Kota Groningen. Cadangan gas itu menjadi yang terbesar di Eropa.
Dalam konteks Indonesia, Amalia mengatakan "penyakit" ini menyebabkan tak berkembangnya sektor manufaktur. Data menunjukkan sejak 2002 hingga 2022 kontribusi sektor manufaktur menurun dari 32% terhadap PDB menjadi 18,3%. Padahal sektor ini menjadi jalan keluar dari middle trap income yang membayangi Indonesia.
"Padahal idealnya kalau kita mau loncat menjadi negara maju biasanya sektor industri manufakturnya itulah yang menjadi premover dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi terhadap PDB yang cukup tinggi," ujar dia.
Berkaca dengan Korea Selatan, kata Amalia, negara itu bisa keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah dengan industri manufaktur. Selama 17 tahun, Korea Selatan akhirnya bisa berubah, dari negara dengan pendapatan rendah menjadi negara dengan penghasilan tinggi.
Untuk itu, Amalia mengingatkan agar pemerintah tidak meninggalkan momentum penting pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga meskipun menghadapi ketidakpastian global. "Ini modal kita untuk segera melakukan transformasi ekonomi," ujar dia.
Di dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), terdapat lima rumusan transformasi ekonomi. Pertama, di peningkatan iptek, inovasi, dan produktivitas ekonomi. Kedua, mengarustamakan ekonomi hijau dalan proses transformasi.
Ketiga, transformasi digital sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas perekonomian. Keempat, integrasi ekonomi domestik dan konektivitas global.
"Kita ciptakan domestic value chain, antarsatu wilayah dengan wilayah lain, sehingga menciptakan kekuatan ekonomi yang disebut dengan economic power house," ujar dia.
Kelima, menjadikan perkotaan dan perdesaan sebagai sumber pusat pertumbuhan ekonomi. Ini, kata dia, menciptakan produkvitias perekonomian yang akan didukung oleh industrialisasi, ekonomi biru sebagai sumber ekonomi baru, modernisasi pertanian, dan juga pariwisata dan ekonomi kreatif.

