Jelang RDG, Legislator Golkar Minta BI Perkuat Sektor Riil
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar Puteri Anetta Komarudin memberikan komentar terkait arah kebijakan Bank Indonesia (BI) jelang bergulirnya rapat dewan gubernur (RDG) pada 20-21 Mei 2025. Ia menyebut saat ini perekonomian Indonesia tengah berada di dalam fase rezim suku bunga tinggi.
Namun ia mengatakan, situasi serupa juga terjadi di global, di mana The Fed juga masih menahan suku bunga acuan di level yang tinggi. Terkait hal ini, ia meminta agar BI dapat memperhatikan kondisi perekonomian saat ini, sebelum menetapkan kebijakan suku bunga acuan.
"Rezim suku bunga tinggi ini kan sebenernya memang bukan hanya di Indonesia ya, tapi juga terjadi di negara-negara maju. The Fed juga memang suku bunganya tinggi. Tapi tentu kita berharap BI bisa selalu menyesuaikan dengan kondisi ekonomi nasional," katanya kepada Investortrust saat ditemui di Gedung DPP Partai Golkar, Jakarta, Minggu (18/5/2025).
Puteri menjelaskan, kebijakan suku bunga acuan BI saat ini menjadi penting sebagai respons bank sentral terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I 2025 yang cenderung melambat. Sebagai catatan, Badan Pengumuman Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I 2025 mencapai 4,87% secara year on year.
Baca Juga
IHSG Anjlok di tengah RDG BI, Rupiah Ditutup Merosot
Ia mengatakan laporan pertumbuhan ekonomi yang melambat di triwulan I 2025, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik melainkan juga sentimen global. Di antaranya seperti adanya gejolak akibat kebijakan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. "Faktor-faktor ini juga sedikit banyak berpengaruh pada perlambatan ekonomi kita," sambungnya.
Ketua DPP Partai Golkar itu melanjutkan, kebijakan suku bunga acuan oleh BI diharapkan dapat mendorong penguatan sektor riil untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi nasional.
"Jadi yang terus kita dorong adalah bagaimana seluruh kebijakan ekonomi ini bisa dengan cepat tertransmisikan kepada sektor riil, untuk penciptaan lapangan kerja bisa terus didorong. Dan ini juga sebenarnya menjawab isu PHK yang kemarin sempat ramai dibahas," ungkapnya.
Baca Juga
Januari Deflasi, Ekonom Sebut Ada Ruang Penurunan Bunga di RDG BI
Selain itu legislator Partai Golkar ini juga berharap agar kinerja Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dapat semakin optimal. "Sebenarnya juga yang paling penting bagaimana KSSK, yakni Kemenkeu, BI, OJK dan LPS. Keempat lembaga ini terus berkoordinasi untuk bisa merumuskan kebijakan yang ter-update sesuai dengan kondisi masa kini," tuturnya.
Diketahui dalam RDG periode April 2025 lalu, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75%. Selain BI Rate, dewan gubernur juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.

