Bos BKPM Ungkap Investor Lokal Dominasi Realisasi Investasi RI di Triwulan I 2025
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan investor lokal mendominasi realisasi investasi di Indonesia sepanjang triwulan I 2025.
Menurut Rosan dari total realisasi investasi triwulan I 2025 sebesar Rp 465,2 triliun, porsi penanaman modal dalam negeri (PMDN) oleh investor lokal mencapai 50,5% atau setara dengan Rp 234,8 triliun.
Baca Juga
Lapor ke Prabowo, Rosan Sebut Realisasi Investasi Triwulan I 2025 Capai Rp 465,2 Triliun
"(Sedangkan) penanaman modal asing atau PMA (sebesar) Rp 230,4 triliun atau 49,5%," katanya dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/4/2025).
Kemudian dari persebaran wilayah, Rosan mengatakan realisasi investasi di luar Jawa masih lebih banyak dengan catatan Rp 235,9 triliun atau setara 50,7%. Sedangkan di Jawa sendiri, investasi sepanjang triwulan I ini mencapai angka Rp 229,3 triliun atau setara 49,3%.
Pria yang juga menjabat sebagai bos Danantara itu juga mengungkapkan, Singapura masih menjadi asal negara investor terbesar yang menyuntik PMA di Indonesia.
"Dari investasi yang masuk ini memang Singapura memberikan kontribusi yang terbesar. Sudah selama 10 tahun terakhir, Singapura menjadi investor terbesar di Indonesia," jelasnya.
Secara berturut-turut ia mengungkap negara-negara asal investor tertinggi di Indonesia adalah Singapura dengan total realisasi investasi sebesar US$ 4,6 miliar.
Kemudian disusul Hongkong dengan US$ 2,2 miliar, China US$ 1,8 miliar dan Malaysia US$ 1 miliar. Dan di urutan kelima ada Jepang dengan US$ 1 miliar.
"Ini saya hanya menggambarkan lima negara besar yang berinvestasi di triwulan I," sebutnya.
Baca Juga
Rosan menambahkan terdapat lima sektor penyerap realisasi investasi tertinggi di Tanah Air. Kelima sektor itu, yakni industri logam dasar, barang logam dan bukan mesin dan peralatannya (14,5%). Kemudian, bidang transportasi gudang, dan telekomunikasi (14,3%), lalu sektor pertambangan (10,4%), jasa lainnya (8,8%) dan kawasan industri dan perkantoran (8,1%).
"Di tengah tensi geopolitik yang meningkat geoekonomi yang meningkat tapi kita masih bisa mencapai target investasi," tegas Rosan.

