Bagikan

BI Paparkan Alasan Beda Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dengan IMF

JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 berada di bawah titik tengah kisaran 4,7% hingga 5,5% atau sekitar 5,1%. Hal ini berbeda atau lebih tinggi dengan proyeksi IMF bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7% pada 2025 dan 2026.

“Dipengaruhi secara langsung kebijakan AS (Amerika Serikat), yang menurunkan ekspor ke AS,” kata Perry, saat Rapat Dewan Gubernur (RDG), di Jakarta, Rabu (23/4/2025).

Perry mengatakan, tarif yang dibuat Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025 itu diproyeksi juga akan menurunkan permintaan dari mitra dagang utama Indonesia, yaitu China.

Meski begitu, Perry memberikan gambaran besaran tarif resiprokal yang akan ditetapkan akan berdampak ke negara di luar AS dan China. BI memperkirakan perhitungan rata-rata besaran tarif efektif yang digunakan nantinya membuat perekonomian dunia menurun.

“Yang kami perkirakan sebelumnya adalah 3,2% menjadi 2,9% untuk 2025,” kata dia.

Sementara itu, BI juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia masih akan menurun pada 2026. Pada tahun tersebut, BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia berada pada 2,9%, dari sebelumnya 3,1%.

Menurut Perry, dalam beberapa perhitungan yang didapat, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan menurun. Di sisi lain, pelaku pasar memprediksi probabilitas resesi AS berada pada angka 60%.

“Ekonomi China kemungkinan juga akan menurun,” jelas dia.

Baca Juga

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 'Segini' untuk 2025 dan 2026

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti melihat wacana penetapan tarif resiprokal AS ini bersifat fleksibel. Untuk itu, perlu kehati-hatian dan kecermatan dalam memahami proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

Proyeksi penurunan pertumbuhan global yang disampaikan menggunakan asumsi pada 9 April 2025. Saat itu, tarif universal dan resiprokal AS hanya dikenakan kepada China. Selain itu, faktor retaliasi tarif yang dibuat China kepada AS turut menjadi perhitungan.

“Lebih spesifiknya untuk Amerika itu turun dari 2,3% menjadi 2% dan China dari 4,6% menjadi 4%” kata dia.

Grafis proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia oleh IMF. (Investortrust)
Source: Investortrust

Angka-angka proyeksi pertumbuhan ekonomi yang digunakan BI ini berbeda dari proyeksi IMF yang menyebut pertumbuhan ekonomi global pada 2,8%. Sebab, IMF menggunakan asumsi pada 2 April 2025.

Tahun ini, IMF memproyeksi pertumbuhan global akan turun menjadi 2,8%. Sementara, pada 2026, pertumbuhan ekonomi diprediksi sebesar 3%. Sementara, untuk pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini sebesar 3,9% pada 2025 an 4% pada 2026.

Baca Juga

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Bawah 5%, Ekonom Ingatkan Kebijakan Adaptif

Untuk negara-negara berkembang, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada pada 4,5% pada 2025 dan 4,6% pada 2026.

IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 4% pada 2025 dan 2026. Adapun pertumbuhan ekonomi AS diproyeksi sebesar 1,8% pada 2025 dan 1,7% pada 2026.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024