Asing Balik Beli Bersih SBN, Masih Jual Neto Saham
JAKARTA, investortrust.id - Investor asing akhirnya berbalik arah mencatatkan net buy di Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia senilai Rp 4,19 triliun Kamis lalu, berdasarkan data terbaru DJPPR. Sedangkan di pasar saham, non-resident masih membukukan net sell Rp 0,69 triliun pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia Senin (21/04/2025).
Net foreign capital ouflows itu menambah akumulasi penjualan bersih saham oleh asing di Bursa Efek Indonesia month to date menjadi Rp 20,31 triliun hingga Senin sore. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell Rp 50,24 triliun. Ini setara US$ 2,99 miliar,” papar manajemen BEI dalam keterangan di Jakarta, Senin sore.
Berdasarkan catatan Investortrust, meski pemodal asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sepanjang hari ini, meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup naik tipis sebanyak 7,7 poin (0,12%) menjadi 6.445,97.
Net sell terbanyak melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 205,41 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 181,45 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 114,19 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 87,22 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 64,24 miliar.
Baca JugaLG Batal Investasi Rantai Pasok Baterai Rp 130 Triliun di Indonesia
Sebaliknya, lima saham menorehkan pembelian bersih terbanyak hari ini. Ini mencakup net buy saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 172,23 miliar, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 46,20 miliar, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp 42,24 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 16,69 miliar, dan PT Aspirasi Harapan Hidup Tbk (ACES) Rp 16,57 miliar.
Penguatan indeks awal pekan ini didukung kenaikan saham sektor teknologi 3,39%, sektor material dasar 1,64%, sektor industri 0,43%, dan sektor kesehatan 0,19%. Sisanya sektor lain dilanda pelemahan.
Sedangkan saham dengan penguatan tertinggi hingga auto reject atas (ARA) dicatatkan saham PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) naik 34,55% menjadi Rp 148 dan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menguat 24,84% menjadi Rp 980.
Baca Juga
LG Batal Investasi Rantai Pasok Baterai Rp 130 Triliun di Indonesia
Sebaliknya lima saham dengan torehan pembelian bersih terbanyak hari ini, yaitu saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 172,23 miliar, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 46,20 miliar, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp 42,24 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 16,69 miliar, dan PT Aspirasi Harapan Hidup Tbk (ACES) Rp 16,57 miliar.
Terkait penguatan indeks awal pekan ini didukung kenaikan saham sektor teknologi 3,39%, sektor material dasar 1,64%, sektor industry 0,43%, dan sektor kesehatan 0,19%. Sisanya sektor lain dilanda pelemahan.
Sedangkan saham dengan penguatan tertinggi hingga auto reject atas (ARA) dicatatkan saham PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) naik 34,55% menjadi Rp 148 dan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menguat 24,84% menjadi Rp 980.
Sementara di pasar SBN, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi Kamis lalu, dengan non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan berbalik mencatatkan pembelian neto Rp 4,19 triliun. Secara month to date, asing masih mencatatkan penjualan bersih Rp 1,41 triliun hingga Kamis lalu, namun secara year to date membukukan net buy mencapai Rp 13,82 triliun hingga Kamis lalu.
Baca Juga
Kinerja Positif Ekspor Nikel, Baja, dan Mesin
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menilai positif data neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Neraca perdagangan mencatat surplus US$ 4,33 miliar dolar, meningkat dibandingkan surplus pada Februari 2025 sebesar US$ 3,10 miliar. Surplus ini beruntun dalam 59 bulan teralhir, sejak Mei 2020.
Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut. Ke depan, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain, guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Surplus neraca perdagangan yang lebih tinggi ini terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat. Neraca perdagangan nonmigas pada Maret 2025 mencatatkan surplus sebesar US$ 6 miliar, seiring ekspor nonmigas yang meningkat menjadi US$ 21,80 miliar.
"Kinerja positif ekspor nonmigas tersebut didukung oleh ekspor komoditas berbasis sumber daya alam, seperti bijih logam, terak, dan abu, serta nikel dan barang daripadanya. Selain itu, ekspor produk manufaktur seperti besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya. Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia.," kata Denny dalam keterangan di Jakarta, Senin 21 April 2025.
Defisit neraca perdagangan migas tercatat juga menurun menjadi sebesar US$ 1,67 miliar pada Maret 2025. Ini sejalan dengan peningkatan impor migas yang lebih rendah dibandingkan dengan lonjakan ekspor migas.
Rupiah Menguat
Kurs rupiah juga ditutup menguat terhadap dolar AS dalam perdagangan Senin (21/04/2025), bertepatan dengan rilis Indonesia mencatatkan kenaikan surplus neraca perdagangan Maret. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah menguat 25 poin (0,14%) ke level Rp 16.808 per dolar AS, dibanding Kamis lalu di level Rp 16.833.
Pada perdagangan di pasar spot valas yang dipantau Yahoo Finance, kurs rupiah juga menguat 11 poin (0,11%) ke level Rp 16.800 per dolar AS. Dalam penutupan perdagangan terakhir sebelumnya, kurs mata uang Garuda berada di posisi Rp 16.819 per dolar AS.

