IKK Anjlok 3 Bulan Berturut-turut, Kelas Menengah Tahan Belanja
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Maret 2025 tercatat sebesar 121,1. Angka ini menunjukkan terjadinya penurunan selama tiga bulan di awal tahun ini.
Berdasarkan data, IKK pada Januari 2025 tercatat sebesar 127,2 dan pada Februari 2025 sebesar 126,4. Sementara IKK pada Desember 2024 tercatat sebesar 127,7.
Meski kembali turun, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengeklaim keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi masih terjaga. Landasannya, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terjaga di level lebih dari 100. IKE dan IEK tercatat masing-masing sebesar 110,6 dan 131,7. Kendati angka tersebut sejatinya lebih rendah dari indeks bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 114,2 dan 138,7.
Mandiri Institute dalam laporan Perkembangan Belanja Masyarakat Terkini menunjukkan data daya beli masyarakat yang mulai melambat sejak pra-Ramadan hingga Ramadan 2025. Intensitas aktivitas belanja memang terpantau lebih sering, namun basket value-nya mengalami kontraksi.
“Perilaku ini menunjukkan masyarakat membuat adjustment konsumsi dengan kapasitas finansialnya di tengah tantangan ekonomi saat ini,” demikian laporan Mandiri Institute diakses Rabu (16/4/2025).
Data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan selama periode Ramadan 2025 masyarakat cenderung menahan belanja pada tiga pekan awal. Pertumbuhan belanja di Ramadan hingga libur Idulfitri 2025 terhadap belanja pra-Ramadan hanya 11,2% atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang tercatat sebesar 12,1%.
Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, 2023 dan 2024, terjadi anomali peningkatan konsumsi masyarakat. Pada 2025, konsumsi masyarakat saat Ramadan terjadi di pekan terakhir Ramadan.
Baca Juga
Menteri UMKM Sebut Jumlah Pemudik di Lebaran 2025 Turun Bukan Karena Daya Beli Melemah
Berdasarkan data, rata-rata MSI di pekan terakhir Ramadan hingga Libur Idulfitri 2025 tercatat 19,1%. Sementara pada periode yang sama 2023 dan 2024 masing-masing, 15,6% dan 18,4%.
Pada pekan ketiga Ramadan, peningkatan konsumsi terjadi pada jenis consumer goods dan leisure. Saat lebaran, consumer goods yang meningkat yaitu belanja di restoran dan fashion. Pada periode ini, belanja leisure yang meningkat berupa perawatan kecantikan dan perhiasan.
Kondisi belanja juga ditengarai dipengaruhi oleh kelompok bawah yang tergerus daya belinya. Di level yang lain, kelompok menengah juga masih menahan belanja.
TIngkat Tabungan Kelas Menengah Naik Tipis
Tingkat tabungan pada kelompok bawah tercatat turun ke level 79,8 pada Ramadan 2025. Angka ini di bawah tingkat tabungan pada Ramadan 2024 yang sebesar 84,4.
Penurunan indeks tabungan juga terlihat pada kelas atas. Pada Ramadan 2025 ini, indeks tabungan kelompok ini tercatat sebesar 93,3, atau di bawah catatan tingkat tabungan pada Ramadan 2024 yang sebesar 97,4.
Posisi yang relatif stabil tercatat pada tabungan kelompok kelas menengah yang berada di angka 101,8 pada Ramadan 2025. Angka tersebut naik tipis dibandingkan Ramadan 2024 yang sebesar 101,1.
Mengomentari turunnya IKK dalam tiga bulan terakhir, ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal menyebutnya sebagai alarm. Sebab, kondisi itu mengindikasikan terjadinya peningkatan tekanan terhadap daya beli rumah tangga seiring menyusutnya kelas menengah dan membengkaknya beban biaya hidup di wilayah perkotaan.
“Tren ini sejalan dengan terjadinya PHK (pemutusan hubungan kerja) lebih dari 90.000 karyawan sejak 2024 dan perilaku belanja yang lesu pada kuartal I-2025,” kata Faisal.
Faisal menjelaskan penurunan IKK secara berkelanjutan berpotensi mengancam permintaan domestik. Utamanya, konsumsi yang menjadi penopang utama PDB, semisal sektor ritel, barang konsumsi, dan jasa.
“Melemahnya kepercayaan konsumen dapat mendorong rumah tangga beralih ke tabungan sebagai antisipasi, yang tentu memperlambat aktivitas ritel dan jasa,” kata dia.
Melihat kondisi ini, Faisal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2025, di bawah 5%. Alasannya, perekonomian Indonesia akan dihadapkan risiko penurunan (downside risk) pada tahap siklus pasar saat ini.

