Kelas Menengah Tahan Belanja, Lebih Pilih Investasi
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kelas menengah menahan belanja. Langkah ini, kata Airlangga, disebabkan ketidakpastian ekonomi dan kondisi di tahun politik.
"Biasanya mereka akan less spending kalau mereka merasa bahwa ke depan pada ketidakpastian, mereka akan menabung," kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Senin (5/2/2024).
Untuk itu, Airlangga berharap proses politik dalam pemilihan umum (pemilu) 2024 dapat berjalan lancar. Ini dapat memberikan kepercayaan kepada investor untuk mengguyurkan dana investasinya.
"Kemudian orang lebih berani spending tentunya," ujar dia.
Pemerintah, kata dia, akan terus memberikan bantuan pengaman sosial untuk kelas menengah ke bawah. Cara ini dilakukan agar daya beli masyarakat terjaga dan inflasi bisa lebih rendah.
"Sehingga tentu diharapkan market confidence akan lebih tinggi lagi," ujar dia.
Baca Juga
Berdasar data yang disampaikan Plh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut perlambatan daya beli kelas menengah atas tercermin dari pajak penjualan barang mewah (PPnBM) yang melambat. Indikator lainnya yaitu melambatnya jumlah penumpang angkutan udara dan penjualan mobil berpenumpang banyak yang tidak sebanyak tahun lalu.
"Sementara itu, investasi finansial seperti simpanan berjangka mengalami penguatan, jadi artinya ada sedikit pergeseran dari spending kepada investasi," ujar Amalia.
Konsumsi rumah tangga pada 2022 tercatat sebesar 4,94%. Angka ini turun menjadi 4,82% pada 2023.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi juga melambat. Ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya 5,05% pada 2023, padahal di tahun 2022 ekonomi tercatat tumbuh 5,31%.
Konsumsi rumah tangga merupakan penyangga perekonomian. Komponen ini memiliki andil terhadap PDB sebesar 53,18%. Setelah konsumsi rumah tangga, andil terbesar kedua yaitu investasi yang menyumbang 29,33% dari PDB.

