BKF: Inflasi Maret Saat Ramadan Masih Terkendali
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menyoroti inflasi yang terjadi pada Maret 2025 sebesar 1,03% secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd). Angka inflasi ini tergolong terjaga meski memasuki Ramadan dan Idulfitri.
“Inflasi Maret 2025 terus dijaga agar terkendali, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabil di masa Ramadan dan Idulfitri,” kata Febrio, dikutip Kamis (10/4/2025).
Menurut Febrio, inflasi yang terjaga karena sejumlah insentif yang diberikan pemerintah, di antaranya diskon tarif tol dan pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah untuk tiket pesawat di masa Ramadan dan Idulfitri.
“Ini berkontribusi menahan kenaikan inflasi, sehingga diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2025,” kata dia.
Baca Juga
Selain inflasi terkendali, Febrio menjelaskan, kinerja manufaktur Indonesia terus berada dalam tren positif pada Maret 2025. Hal ini ditandai purchasing manager index (PMI) manufaktur yang menyentuh level 52,4. “Aktivitas manufaktur yang terus ekspansif didorong pertumbuhan pertumbuhan produksi yang berlanjut dalam beberapa bulan terakhir,” ujar dia.
Febrio mengatakan, sektor produksi meningkat dalam beberapa bulan terakhir selama Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, permintaan ekspor juga menopang peningkatan produksi manufaktur Indonesia. “Optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan juga menjadi pendorong,” kata dia.
Hal ini terjadi di tengah ancaman tarif impor Amerika Serikat (AS) yang sudah diprediksi sejak Donald Trump menjadi presiden AS. Sektor manufaktur beberapa negara mitra dagang juga masih ekspansif, seperti di China sebesar 51,2, India sebesar 58,1, dan AS sebesar 50,2.
Baca Juga
Tarif Trump Berpotensi Picu Kenaikan Inflasi, Tunda Tren Penurunan Suku Bunga
Dari sisi konsumen, ketahanan ekonomi tercermin dari indikator konsumsi yang masih berada pada level optimistis. Indeks Kepuasan Konsumen (IKK) pada Februari 2025 tercatat sebesar 126,4, menunjukkan peningkatan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi baik saat ini maupun prospeknya ke depan.
Selain itu, Indeks Penjualan Ritel (IPR) juga mencatat pertumbuhan sebesar 0,5% (yoy), terutama didorong penjualan suku cadang dan aksesori otomotif, menjadi sinyal bagi daya beli masyarakat tetap terjaga. Perkembangan ini memperkuat harapan bahwa konsumsi domestik masih menjadi kontributor bagi pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2025.
Pemerintah terus berkomitmen menjaga stabilitas harga dan mempertahankan kepercayaan konsumen melalui berbagai langkah kebijakan yang kredibel, agar konsumsi masyarakat terus konsisten menopang ekonomi.

