Luhut: Kita Sudah Siapkan Proposal Negosiasi, Delegasi Terbang ke AS 17 April
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah telah menyiapkan proposal negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) merespons tarif tinggi impor yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump pada barang Indonesia 32%.
"Indonesia telah menyiapkan proposal untuk negosiasi tarif dengan Amerika. Proposal ini adalah proposal konkret yang dapat diimplementasikan dan menjawab keinginan permasalahan yang disampaikan Amerika," kata Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia bertajuk "Memperkuat Daya Tahan Ekonomi di Tengah Gelombang Perang Tarif Perdagangan" di Menara Mandiri Sudirman, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Luhut menjelaskan, Pemerintah Indonesia sudah berkomunikasi dengan United States Trade Representative (USTR). "Kita dengan USTR sudah banyak berbicara dan mulai kelihatan bentuknya," kata dia.
Luhut mengatakan, delegasi Indonesia yang dipimin Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto akan bertemu dengan beberapa pejabat dari AS pada 17 April 2025. "Delegasi Indonesia terdiri dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, dan Dewan Ekonomi Nasional," kata dia.
Luhut mengatakan, DEN pada Kamis (10/4/2025) juga sudah melakukan zoom ke-2, ke-3 dengan Amerika untuk membahas beberapa hal. "Sehingga nanti paralel resmi dengan Pak Menko Perekonomian jalan, kita juga melakukan zoom call yang kesekian kali," kata dia.
Dampak terbatas
Luhut mengatakan, DEN telah berkoordinasi dengan Kemenko Perekonomian hingga asosiasi dan pengusaha untuk memahami masalah yang terjadi di bawah dan langlah yang harus dilakukan.
"Kami telah melakukan simulasi potensi dampak penerapan tarif resiprokal sangat intensif selama Lebaran ini, ekonomi Indonesia ini akan mengalami tekanan karena dampak kontraksi," kata dia.
Meski demikian, dampak terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia diperkirakan akan terbatas. Apalagi porsi ekspor Indonesia terhadap PDB relatif rendah sekitar 23,8% dan porsi ekspor ke Amerika juga hanya 10% dari total ekspor Indonesia. "Kita sebenarnya tidak perlu khawatir berlebihan. Kalau waspada, yes," kata dia.
Meski secara agregat dampaknya terbatas, tetapi terdapat sektor-sektor yang mengalami penurunan ekspor dan output cukup besar, seperti perikanan karena menyangkut ratusan ribu buruh pertanian. "Lainnya seperti tekstil produk makanan, elektronik, peralatan listrik, produk kayu furniture, dan karet, dan juga produk plastic," kata dia.
Peluang bagi Indonesia
Di lain sisi, Luhut melihat ada peluang positif dari tarif tinggi AS. Ia memperkirakan akan terjadi tekanan terhadap perekonomian dunia, terutama second round effect dari perlambatan ekonomi China. Pergolakan ekonomi di Tiongkok akan membuat Indonesia dilirik sebagai tempat mengalihkan investasi.
"Pemain-pemain di Tiongkok itu melihat Indonesia masih menjadi alternatif yang bagus buat mereka melakukan investasi. Kami laporkan, Bapak Presiden, ini saya kira peluang besar yang bisa kita ambil," ungkap Luhut.
Luhut mengatakan, anggota DEN yang diutus ke China memberikan laporan soal potensi relokasi investasi dari China ke Indonesia. "Keputusan Bapak (Prabowo) mengenai deregulasi telah memberikan dampak (positif) yang sangat luas," kata dia.

