Dolar Tembus ke Rp16.943 Begitu Trump Tambahkan Tarif pada China
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah kembali merosot dalam perdagangan Rabu (9/4/2025) hari ini. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah melemah ke level Rp16.943 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Jisdor BI mencatatkan mata uang rupiah melemah pada posisi Rp16.849 per dolar AS.
Pada perdagangan pasar spot valas, dilansir dari Yahoo Finance kurs rupiah tergelincir tipis 1 poin (0,01%) ke level Rp16.860 per dolar AS. Sebelumnya Yahoo Finance mencatatkan mata uang rupiah ditutup melemah di level Rp16.859 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, hari ini pasar sedikit goyah setelah Presiden AS Donald Trump menanambah tarif baru yang juga ditujukan pada beberapa ekonomi utama di luar China salah satunya Indonesia yang terkena dampak tarif 32%. Sedangkan tarif timbal balik Trump akan berlaku mulai pukul 00:01 ET (04:01 GMT) pada hari Rabu.
Sementara itu Trump pada hari Selasa menandatangani perintah yang mengenakan tarif tambahan sebesar 50% pada China, sehingga tarif kumulatif AS terhadap negara tersebut menjadi 104%. Angka tersebut jauh di atas 60% yang diancam oleh Trump selama upaya kampanyenya tahun lalu.
Trump mengatakan kenaikan 50% tersebut merupakan balasan atas pengenaan tarif balasan sebesar 34% oleh China terhadap AS minggu lalu. bahkan ketika pemerintahan Trump bergerak cepat untuk memulai pembicaraan dengan mitra dagang lain yang menjadi sasaran tarif besar-besaran
"Pelonggaran kontrol yuan oleh PBOC tampaknya ditujukan untuk meningkatkan nilai ekspor Tiongkok, yang pada gilirannya dapat membantu ekonomi terbesar kedua di dunia itu menghadapi perang dagang yang mengerikan dengan AS," ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (9/4/2025).
China sejauh ini tidak menunjukkan niat untuk mundur, dengan Kementerian Perdagangan berjanji untuk "berjuang sampai akhir" dengan AS atas peningkatan tarifnya. Pasar juga berspekulasi bahwa China membuang kepemilikannya yang besar atas Obligasi Pemerintah AS, yang menyebabkan lonjakan besar dalam imbal hasil.

