Soal Tarif Impor AS, Sri Mulyani: Ini adalah Perang Bersama
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut kenaikan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) sebagai bentuk “perang bersama” yang harus dihadapi secara terbuka dan sigap. Dibutuhkan strategi yang terbuka, pragmatis, dan cepat dalam menyikapi kondisi global saat ini.
"Ini adalah situasi yang harus dihadapi secara sangat open-minded, pragmatic, dan pada saat yang sama harus dihadapi dengan cepat dan sigap, seperti yang disampaikan Bapak Presiden (Prabowo) dan Pak Menko (Airlangga) tadi," kata Sri Mulyani dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga
Prabowo Ingatkan Bangsa Indonesia Jangan Sampai Dipecah Belah dengan Propaganda
Ia menambahkan, kebijakan yang tepat perlu segera diambil untuk mengoreksi situasi sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul. Meski sejumlah negara telah bereaksi, pendekatan diplomasi tetap dibutuhkan.
Sri Mulyani menjelaskan bahwa kebijakan tarif AS berpotensi memicu trade diversion atau peralihan jalur perdagangan global. Dengan demikian, banyak negara kini mencari pasar ekspor dan destinasi investasi baru di luar dominasi AS yang hanya mencakup 25% dari total perdagangan dunia.
Menurutnya, Indonesia punya peluang besar untuk mengambil alih posisi negara lain, seperti Vietnam, Bangladesh, dan Thailand, yang tarif balasannya terhadap AS relatif lebih tinggi. Di sisi lain, persaingan tetap ada dari negara seperti Filipina, Malaysia, India, dan Korea Selatan yang memiliki tarif lebih rendah.
"Jadi, kita bisa menggambarkan komoditas apa yang menjadi keunggulan Indonesia hingga bisa menjadi pemasok baru atau kita akan dikalahkan oleh yang tadi tarifnya lebih rendah. Ini yang menggambarkan betapa pentingnya situasi seperti ini," sambungnya.
Baca Juga
Sri Mulyani menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan dalam menyikapi tantangan ini.
"Bapak Presiden ingin kemudian bertemu dengan semua stakeholder karena ini adalah perang bersama. Ini harus bersama-sama antara pemerintah, policy maker, para pelaku ekonomi dan bagaimana kita meresponsnya."
Menkeu juga mengingatkan bahwa Indonesia harus terus bersiap dan adaptif terhadap perubahan global. "Kita harus terus beradaptasi dan memanfaatkan peluang yang muncul di tengah ketidakpastian ini," tutupnya. (C-13)

