Rupiah Merosot Tajam usai Libur Lebaran, Ternyata Ini Alasannya!
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah merosot tajam pada perdagangan pasar spot usai cuti panjang libur lebaran Idulfitri 1446 H/2025 M. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah anjlok 287 poin (1,73%) ke level Rp16.841 per dolar AS, Selasa (8/4/2025) hingga pukul 12.30 WIB. Sebelumnya Yahoo Finance mencatatkan kurs rupiah berada di posisi Rp16.554 per dolar AS.
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkap alasan dibalik tertekannya kurs rupiah pada perdagangan spot hari ini. Selama libur panjang, pasar global diguncang oleh pengumuman tarif timbal balik dari Presiden AS Donald Trump.
Diketahui Trump mengusulkan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor dan tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara tertentu seperti Tiongkok (34%), Vietnam (46%), dan UE (20%), yang memicu kekhawatiran akan perang dagang global baru.
"Hal ini menyebabkan penurunan tajam di seluruh ekuitas global dan menimbulkan kekhawatiran atas inflasi, yang mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi," kata Andry dalam laporan tertulis, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga
Indeks Dolar Melemah, Rupiah Anjlok Terendah Sepanjang Sejarah Rp 16.849/USD
Sebagai tanggapan, beberapa negara yang terkena dampak mengumumkan tindakan balasan. Tiongkok mengenakan tarif sebesar 34% untuk semua impor AS, efektif 10 April, yang meningkatkan ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar tersebut. Sebaliknya, Vietnam menawarkan untuk menghapus semua tarif impor AS setelah Presiden Trump mengumumkan pungutan sebesar 46% untuk negara Asia Tenggara tersebut, yang bertujuan untuk mengurangi potensi dampak ekonomi.
"Yang makin memperparah situasi, Presiden Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan 50% pada impor Tiongkok jika Beijing tidak menarik tarif balasannya paling lambat 8 April. Langkah ini telah meningkatkan volatilitas pasar dan menimbulkan kekhawatiran atas konflik perdagangan yang berkepanjangan," jelas Andry.
Sementara itu dia mengungkap pada pekan ini setidaknya ada sejumlah rilis data utama yang perlu diperhatikan, termasuk IHK AS Maret (headline 2,6% yoy, inti 3,0% yoy) dan PPI (diharapkan +0,2% mom), yang menyoroti risiko inflasi yang terus berlanjut. Klaim Pengangguran Awal AS diperkirakan mencapai 224 ribu, menandakan pasar tenaga kerja yang mendingin. Tarif dasar 10% mulai berlaku pada 5 April, sementara tarif khusus sektor masih tertunda.
"Pasar akan memantau Risalah FOMC (10 April) dan pidato dari pejabat Fed, ECB, BOJ, dan BOE untuk sinyal kebijakan," sebut Andry.

