Asing Kembali Masuk Pasar Asia, Ditopang India-Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing mulai kembali ke pasar saham Asia dengan aliran dana masuk bersih US$ 93,8 juta pekan lalu, setelah penjualan bersih beruntun selama empat minggu dengan hanya India dan Indonesia mencatatkan net foreign inflows. Kedua negara yang mempunyai hubungan dekat ini menyelamatkan pasar di kawasan dari zona merah.
Berdasarkan data MIDF Amanah Investment Bank Bhd’s Fund Flow Report, untuk minggu yang berakhir 28 Maret 2025, India memimpin kawasan Asia dengan arus dana masuk bersih sebesar US$ 3,23 miliar, menandai perubahan tajam setelah lima belas minggu berturut-turut outflows. “Indonesia juga membalikkan tren penjualan bersih selama sembilan minggu, dengan mencatatkan arus dana masuk bersih sebesar US$ 195,9 juta, karena otoritas bergerak cepat untuk memulihkan kepercayaan investor menyusul kemerosotan saham dan mata uang rupiah minggu lalu,” papar laporan yang dirilis oleh surat kabar tertua Malaysia, Malay Mail, Rabu (02/04/2025) siang.
Baca JugaWall Street Volatil Jelang Peluncuran Tarif Trump, S&P 500 dan Nasdaq Menguat tapi Dow Turun Tipis
Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia, pada perdagangan pekan lalu, asing mencatatkan pembelian bersih saham Rp 3,25 triliun. Ini setara US$ 195,9 juta.
Sedangkan secara year to date hingga 26 Maret 2025, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 32,02 triliun di pasar saham. Namun, masih beli neto sebesar Rp 16,08 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 10,98 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Outflows di Taiwan hingga Korsel
Sementara itu, MIDF Amanah mencatat pasar regional lainnya masih terus mengalami arus keluar modal pekan lalu. Taiwan mencatatkan arus keluar bersih tertinggi di Benua Kuning selama lima minggu berturut-turut sebesar US$ 2,61 miliar, didorong kekhawatiran penaikan tarif impor AS yang akan datang dan meningkatnya risiko geopolitik.
Korea Selatan juga mengalami arus keluar modal bersih sebesar US$ 228,4 juta. Ini membalikkan arus masuk singkat minggu sebelumnya karena penaikan tarif impor otomotif oleh Presiden AS Donald Trump memicu kembali kekhawatiran kinerja perdagangannya.
Thailand juga memperpanjang penarikan dana asingnya hingga lima minggu. Negeri Gajah Putih itu mencatat arus keluar sebesar US$ 121,26 juta.
Manufaktur India-RI Masih Kuat
Meski terjadi sedikit penurunan pada Purchasing Manager's Index (PMI) gabungan India bulan Maret menjadi 58,6, lanjut laporan MIDF Amanah, sentimen investor tetap kuat. Hal ini didukung oleh keterbukaan negara dengan penduduk terbanyak di dunia itu untuk memangkas tarif lebih dari setengah impor Amerika Serikat senilai US$ 23 miliar, guna menghindari bea resiprokal dari AS. PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi ekonomi.
“Baru-baru ini, Bank of India juga memperoleh pinjaman sindikasi senilai US$ 400 juta. Pinjaman dolar AS pertamanya dalam lebih dari satu dekade itu juga menarik partisipasi yang kuat, yang mencerminkan pembaruan minat asing pada aset-aset India,” papar MIDF Amanah.
Baca Juga
Berdasarkan catatan S&P Global, PMI manufaktur Indonesia pada Februari sempat menyentuh 53,6, naik signifikan hingga 1,7 poin dari capaian pada Januari di level 51,9. Sedangkan pada Maret sebesar 52,4.
